Kamis, 27 Januari 2011

Kematian Orang Beriman

Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)


Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah ta’aala:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.”

Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

“Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886)

Penulis produktif Aidh Al-Qarni menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut serta tidak mungkin bisa lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dengan Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.”

Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dalam keadaan seperti itu ia tidak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yang telah menikamku?”
”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”
Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.

Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut beliau mengambil secarik kain dan menaruhnya di wajah beliau karena parahnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu beliau berdoa:

لا إله الا الله... لا إله الا الله... لا إله الا الله إن للموت لسكرات...
اللهم أعني على سكرات الموت... اللهم خفف علي سكرات الموت

“Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut itu buatku.” (HR Bukhary-Muslim)
Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa:

اللّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ سَكَرَاتِ الْمَوتِ

”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.”

Saudaraku, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada seorangpun yang tidak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185)


Marilah saudaraku, kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan segera bertaubat memohon ampunan dan rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang kafir. Suatu bentuk kematian yang diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)

Nafsu Dunia dan Kemuliaan Akhirat

Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya.

Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat. Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh..

Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi. Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.

Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia. Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.

Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar. Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup.

Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).

Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan. Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.”

Bahkan, harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian. Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.

Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta. Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini.

Di zaman sekarang ini, mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.

Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.

Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan. Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)

Rabu, 26 Januari 2011

mari dibaca,,,guratan pena lelaki itu... (yang selalu aku cinta...) di suatu masa dulu...


SESOREAN INI, SETELAH MENJAMAH KAMARKU YANG BERBAU APEK TAK PERNAH AKU TINGGALI, SECARIK KERTAS HITAM INI MENGGUGAH KEGUNDAHANKU. AKU TAK PERNAH INGAT LAGI DIMANA AKU MENYIMPANNYA. KERTAS INI MUNCUL BEGITU SAJA SEIRING DENGAN MENDESAKNYA KERINDUANKU. HM...BAU KERTAS INI PUN LAPUK, SEPERTI CERITA CINTAKU... LALU TAK TUNGGU LAMA AKU KEMBALI MEMBACA BAIT DEMI BAITNYA. AKU TERLEMPAR LAGI DI SEBUAH MASA DIMANA DIA MASIH SANGGUP MENGUNGKAPKAN PERASAAN HATINYA. DIMANA DIA MASIH JUJUR AKAN SEBUAH HATI YANG DISIMPAN RAPI DAN TAK PERNAH TERUNGKAP LAGI. SEJAUH INI AKU MASIH MENCARI PADANAN UNTUK DIRIKU YANG TAK LEKAS ADA KARENA AKU TAK MENGINGINKANNYA. DAN TERNYATA KERTAS INI LEBIH MEMBUAT AKU TERPURUK PADA KENANGAN SEJUK KETIKA ITU... AKU... HM... AKU MENYIMPAN DIRIMU, SAYANG... DENGAN RAPI DI DALAM MEMORI YANG TAK AKAN PERNAH PUDAR INI...

Tentang Kita Saat Ini, Minggu 7 Juni 2009 ...

Beberapa waktu ini telah banyak terlewati
Dengan banyak pertimbangan dan pengorbanannya
Karena dia...aku membuang jauh setiap penganggapan buruk
Tentang seorang wanita, yang dia ingin aku menyebutnya perempuan.

Sepatah kata demi kata
Setiap perilaku dan banyak perbuatan
Menguatkan yang dulu lemah
Mengadakan yang dulu lama tak ada
Mewujudkan yang tak pernah ada sebelumnya.

Sudah hampir 30 hari kurang sehari
Sejak aku dipertemukan dengannya
Telah nampak banyak hal
Yang aku dan dia...
Membutuhkan setiap daya dan upaya yang tidak sedikit
Memerlukan sekian banyak pengorbanan, pengertian, dan toleransi
Untuk kita menjalaninya.

Ada setitik demi setitik yang semakin tumbuh di dalam jiwa
Yang telah kosong sejak hampir 3 jangkuan waktu ini,
Karena lambat laun...
Aku semakin takut kehilangan...
Karena jalan-jalan yang mengkhawatirkan masih mengitarinya
Dengan keadaan rapuh di dalam jiwanya.

Semakin dia menjadi nafas dalam setiap hirupanku
Semakin dia telah menjadi darah di dalam setiap aliran darahku
Tanpa aku menyadarinya beberapa waktu hampir 30 hari sebelumnya.
Bersyukurnya aku...karena pengungkapan sehari dan semalam,
Tutur kata yang terlahir dari hatinya,
Mengungkapkan ketakberdayaan jangkauan akal fikiranku
Yang telah aku utarakan
Benar-benar pertanda betapa dalam hatinya untukku.

Entahlah...aku juga tak mengerti
Kenapa aku bertemu dengannya.

Kita nampak dibimbing dan diperhatikan
Begitu disayangi dan dikasihi...
Oleh SATU yang sumber dari segala sumber yang tak berasal
Dengan beberapa sesuatu dan perwatakan yang tak naif dan tak normal

R2K .. ;-)

AKU SELESAI MEMBACA DAN SEPERTI BIASA AKU MENANGIS. TERNYATA DULU SEKALI PERNAH SEPERTI ITU KEADAAN KITA, SAYANG. BEGITU SALUT DAN PENUH DENGAN RASA SAYANG YANG TIADA BERBATAS. KETAKUTAN KITA BERDUA UNTUK KEHILANGAN YANG SATU DENGAN YANG LAINNYA. AKU TAK BERHARAP DIA AKAN MENGINGATNYA. TAPI MUNGKIN SAJA ADA DI SANA, DI SUDUT HATINYA, SEBUAH SENYUMKU YANG MENUNGGU TANGANNYA TERULUR KEMBALI DAN MEMBIMBINGKU DI JALAN LURUS, DI SHIRAAT...

SEKARANG TAK ADA LAGI SAYANG, TAK ADA LAGI DIA. HANYA BAYANG DAN SUARA. SUNGGUH AKU INGIN SEKALI MEMANDANG MATANYA YANG DALAM ITU DAN MENCARINYA YANG DULU. DAN MUNGKIN DIA AKAN BERKATA "INI BUKAN SEPERTI DULU"

TETAPI SESIA-SIA INI KAH AKU MENCINTAIMU? DENGAN SEDIKIT KEBODOHAN DAN RASA SAKIT. DENGAN SEDIKIT BENTAKAN DAN SUARA PANAS YANG MEMBAKAR SEMUA HAL YANG BAIK?

TIDAKKAH KITA SEMPURNA? DAN PERTANDA SEBELUM KITA MUNCUL APAKAH TIADALAH BERARTI? APAKAH DIA BENAR TELAH PERGI? DUH GUSTI...
KEMBALILAH DIRINYA, SEPERTI KETIKA MAYA ITU BERASA SEMANIS NYATA...

Rabu, 12 Januari 2011

MARI MENANAM tu judul dr sahabatku

Meski semua bibit dan benih yang dimiliki semuanya adalah keburukan. Tetaplah menanam kebaikan. Lepas rasa malu dan ragu untuk belajar dan meminta jika memang tak ada satupun bibit kebaikan di kantung hatimu. Jika memang harga dirimu tinggi, berhutanglah suatu kebaikan dan yakinlah bahwa suatu saat akan bisa membayarnya.

Mulailah menanam. Berapapun biji yang ada. Satu biji untuk membuahkan dua atau tiga kebaikan. Menanam dua kebaikan untuk membuahkan lebih banyak lagi bibit kebaikan. Dan terus lakukan itu. Jangan berharap untuk menuai kebaikan tapi lebih berharap untuk dapat menanam kembali bibit kebaikan.

Menanam kebaikan tak selalu hanya menuai kebaikan. Seperti menanam padi, selalu ada rumput yang ikut tumbuh disekitarnya. Dan hama pengganggu serta ancaman juga selalu ada dan terus menggerogoti padi.

Karena itu kebaikan pun tak hanya perlu ditanam tapi juga dipupuk dengan sikap, pembelajaran,peneladanan. Disiram dengan segala kebaikan, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ketika tak ada kebaikan yang dituai ketika sudah susah payah menanamnya, memupuknya, merawatnya, menyiramnya, dan menjaganya. Jangan berduka, menutup hati dengan segala ratapan, rutukan, hidup ini tak adil. Mencurahkan segala kemarahan. Menerbitkan badai dan topan untuk memporak-porandakan ladang kebaikan orang lain. Karena banyak hal yang tak dapat diduga juga datang secara tiba-tiba sebagai cobaan untuk mengingatkan untuk siapa saja kebaikan itu ditanam. Terutama untuk Sang Pencipta. Jangan pernah lupa untuk tetap menyiapkan stok bibit kebaikan sebagai cadangan ketika hati mulai kosong dengan niat kebaikan.

Kalau kebaikan yang ditanam membuahkan hasil yang banyak, jangan lupa untuk membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berada di kanan kiri serta diberikan pada orang yang belum memilki bibit kebaikan agar dia ikut menanam kebaikan.

KISAH SAHABATKU

Cinta pertamaku tumbuh di sebuah SMP terkenal di Kota Bantul. Cinta yang aneh, bingung, malu-malu(in), dan romantis. Mau tahu kenapa? Itu karena aku punya cinta monyet. Yaelah, kalau punya uang, jajan di kantin aja, dong. Dia cewek yang menurutku paling manis kala itu. Sumpah, manis banget kayak kelinci. Kata orang, cantik kan relatif. Yah, namanya jatuh cinta, pasti pengennya deket-deket,dong. Tapi giliran ketemu grogi, terus lari sambil curi-curi pandangan. Ini cuma cinta doang, nih, nggak pake ngungkapin segala. Jadi, lulus es em pe pun cintanya pudar dan luntur. Tapi andinya tetep, gak luntur juga. Masih sama sampai sekarang. Iya, betul, mukanya masih sama, tetep pas-pasan juga. Tapi alhamdulillah lengkap semua fungsinya.

Ngomong-ngomong ada nggak sih, yang ngasih kado cewek idamannya pake boneka yang baru dibeli punya ponakannya trus dibungkus koran .Lalu cara ngasihnya dilempar sambil lari supaya kadonya nggak dibalikin. Kayaknya ada, deh. Kalau begitu aku doain, semoga yang pernah melakukan itu tambah cakep dan murah rejeki.amin.

Ganti episode, lain lagi ceritanya. apa yang kalian lakukan kalau cinta kalian tidak direstui? Bunuh diri? Minum Bayg*n? Waduh, serem, ya. apa nggak kasian tuh, sama orang tuanya. Udah susah-susah digedein, eh gara-gara nila setitik, Tumbang deh, jadi pupuk kompos. Haduh, yang kayak gitu, tuh, romantis atau tragis, ya? . Satu sisi itu pengorbanan yang besar, yang agung kayak di fim-film. Tapi di sisi yang lain, itu adalah kebodohan, karena waktu terus berjalan dan kita masih bakalan ketemu dengan banyak orang lagi. Harusnya kita bersyukur ketika ditolak. Paling nggak kita punya cinta. Jadikan itu pengalaman untuk koreksi, kenapa cinta kita ditolak?

Dan cinta nggak harus memiliki. agama manapun juga tidak membenarkan tindak bunuh diri. Itu adalah dosa dan sebuah kesalahan yang membuat kita harus kehilangan kesempatan besar untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya di dunia ini. Udah cintanya mengharu biru, seromantis dan sekeren Romeo Juliet. Dikenang orang (nggak tau sih, baik apa buruk. Tergantung amal perbuatan) Eh, di akhirat masuk neraka. Enggak, deh.

Itulah hal yang aku alamin di masa es em a. Berkali-kali ditolak. Ya ampyun, gosong deh eyke rasanya bo’. Bahkan bayangin aja, dari jarak radius 8km aku udah ditolak cewek. Iya, memang anda bener. Kan udah ada telepon. Mulai dari ditolak si cewek, orang tua, dan keluarganya. Sampai ke tetangganya juga. Pak RT, Pak RW, sie keamanan, pengurus kampung. Enggak, kalau ini sih rapat kampung, bukan tolak menolak.. apa nggak ancur tuh? Tapi aku enggak, pondasiku kuat pake beton. Jadi nangis, deh

Lulus sekolah, baru deh aku punya pacar untuk pertama kali. Seneng sih, rasanya. ada yang mau nerima kekurangan aku, gitu. Bisa ngrasain yang namanya pacaran. Tapi layaknya cinta jack dan Rose di film Titanic, cintaku juga tenggelam di antartika. Yaudah, buka lembaran baru, deh. Dari sini aku nyadar, masih banyak kekurangan dan kelemahanku sebagai cowok.

Sekarang aku udah gede, dan pola pikirku seharusnya juga udah dewasa. Pacaran juga udah nggak kayak abg lagi. “Asal Bokek Gagal”. Kan berangkat pacaran minta “sangu” dari orang tua. Semoga ini yang terakhir. aku ingin lebih bijak dalam memaknai cinta. Waktu pacaran abg, meski belum pernah aku alamin, tapi udah lewat. Sekarang waktunya sarapan. 5.35.

Maju terus menggenggam mimpi
Harap kubisa sepenuh hati
Raih dirinya cinta sejati
Yakinkan bisa agar terbukti
Jika semua hanyalah ilusi
Kan kucoba menghibur diri

Intinya dari tulisanku ini adalah, capek bener nulis tanpa huruf a. aku jadi salut sama orang alay. Telaten banget smsnya. Kok bisa,ya. Nggak percaya? Coba aja nulis sendiri sambil ganti huruf a pake angka 4. Dan percaya atau tidak, aku baru saja melakukannya. aku bersyukur ada replace yang bisa mengganti semuanya secara otomatis.

“Dia, dia,dia cinta yang ku tunggu, tunggu, tunggu”

TIPS MERANGSANG KRETIFITAS

1. Lakukan pada waktu yang tepat
Kebanyakan orang yang telah berumur berpikir lebih jernih pada pagi hari; sedangkan mereka yang lebih muda, pada siang hari. Temukan kapan waktu Anda yang tepat, dan selesaikan masalah-masalah yang memerlukan pemikiran di waktu-waktu tersebut.

2. Pendidikan tinggi.
Jangan terlalu berlebihan. Pendidikan sekolah memiliki pengaruh besar dalam memupuk kreativitas seseorang terutama pada masa-masa akhir kuliah, namun penaruh tersebut mulai menurun setelah lulus. Pendidikan memang sangat penting, namun hal itu tidak menjamin kesuksesan Anda di bidang tersebut (alias banyak hal-hal lain yang harus diperhatikan).

3.Mengikuti nasehat Konfusius
salah satu petunjuk mengingat yang selalu digunakan oleh para ahli yang melakukan penelitian tentang ingatan : Supaya tidak lupa bila ada hal penting, tulis di secarik kertas. Sebagaimana kata pepatah Cina, tulisan yang tintanya tidak jelas bertahan lebih lama daripada ingatan paling kuat sekalipun.

4. Tampil bersemangat dengan doping
Penelitian menunjukkan kadar kafein dalam secangkir kopi dapat membantu kita berkonsentrasi terhadap sesuatu hal dengan lebih baik. Namun bagi Anda yang rentan atau mudah terkena depresi, sebaiknya jauhkan diri dari sentuhan kopi karena akan berakibat buruk bagi sel-sel otak.

Selasa, 11 Januari 2011

Bila Al Qur'an Bisa Bicara

Allah SWT berfirman:
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (Al-Quran Surat Al-Furqan,25:30)

Saudaraku, seandainya Al-Quran bisa ngomong, dia akan berbicara:


“Waktu Engkau masih kanak-kanak, Kau laksana kawan sejatiku

Dengan wudu' aku Kau sentuh dalam keadaan suci

Aku Kau pegang, Kau junjung dan Kau pelajari

Aku Engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari

Setelah usai Engkaupun selalu menciumku mesra


Sekarang Engkau telah dewasa...

Nampaknya Kau sudah tak berminat lagi padaku...

Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...

Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku Engkau simpan rapi sekali hingga kadang Engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah Engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu

Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar Engkau dianggap bertaqwa

Atau aku Kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku Engkau pendamkan.

Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku Engkau baca beberapa halaman

Sore harinya aku Kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....

Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...Engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV

Waktu senggang..Engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.

Engkau campakkan, Engkau abaikan dan Engkau lupakan...

Waktu berangkat kerjapun kadang Engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)

Diperjalanan Engkau lebih asyik menikmati musik duniawi

Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu

Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu

Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk Kau baca sebelum Kau mulai kerja

Di Komputermu pun Kau putar musik favoritmu

Jarang sekali Engkau putar ayat-ayatku melantun

E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang Kau abaikan

Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa Engkau kini sudah benar-benar melupakanku

Bila malam tiba Engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV

Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga

Di depan komputer berjam-jam Engkau betah duduk

Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari

Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu

Seingatku hanya awal Ramadhan Engkau membacaku kembali

Itupun hanya beberapa lembar dariku

Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu

Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?

Bila Engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba

Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhan-Nya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku Engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang Engkau begitu enteng membuang waktumu...

Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...

Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..

Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu

Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku Engkau baca selalu dan Engkau hayati...

Di kuburmu nanti....Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan

Yang akan membantu Engkau membela diri

Bukan koran yang Engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat

Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu

Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari

Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci

Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...

Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu

Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu

Agar Engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali...

Baca dan pelajari lagi aku....

Setiap datangnya pagi dan sore hari

Seperti dulu....dulu sekali...

Waktu Engkau masih kecil , lugu dan polos...

Di surau kecil kampungmu yang damai

Jangan aku Engkau biarkan sendiri....

Dalam bisu dan sepi....

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”



Allah berfirman:
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” ( Al-Quran Surat Al-Isra’,17:09)

Rasulullah Saw bersabda:
“Bacalah Al Quran …sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (pembela) bagi pembacanya” (HR.Muslim)

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dan kebaikan berlipat sepuluh kali”(HR.At Tirmidzi)