Meski semua bibit dan benih yang dimiliki semuanya adalah keburukan. Tetaplah menanam kebaikan. Lepas rasa malu dan ragu untuk belajar dan meminta jika memang tak ada satupun bibit kebaikan di kantung hatimu. Jika memang harga dirimu tinggi, berhutanglah suatu kebaikan dan yakinlah bahwa suatu saat akan bisa membayarnya.
Mulailah menanam. Berapapun biji yang ada. Satu biji untuk membuahkan dua atau tiga kebaikan. Menanam dua kebaikan untuk membuahkan lebih banyak lagi bibit kebaikan. Dan terus lakukan itu. Jangan berharap untuk menuai kebaikan tapi lebih berharap untuk dapat menanam kembali bibit kebaikan.
Menanam kebaikan tak selalu hanya menuai kebaikan. Seperti menanam padi, selalu ada rumput yang ikut tumbuh disekitarnya. Dan hama pengganggu serta ancaman juga selalu ada dan terus menggerogoti padi.
Karena itu kebaikan pun tak hanya perlu ditanam tapi juga dipupuk dengan sikap, pembelajaran,peneladanan. Disiram dengan segala kebaikan, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ketika tak ada kebaikan yang dituai ketika sudah susah payah menanamnya, memupuknya, merawatnya, menyiramnya, dan menjaganya. Jangan berduka, menutup hati dengan segala ratapan, rutukan, hidup ini tak adil. Mencurahkan segala kemarahan. Menerbitkan badai dan topan untuk memporak-porandakan ladang kebaikan orang lain. Karena banyak hal yang tak dapat diduga juga datang secara tiba-tiba sebagai cobaan untuk mengingatkan untuk siapa saja kebaikan itu ditanam. Terutama untuk Sang Pencipta. Jangan pernah lupa untuk tetap menyiapkan stok bibit kebaikan sebagai cadangan ketika hati mulai kosong dengan niat kebaikan.
Kalau kebaikan yang ditanam membuahkan hasil yang banyak, jangan lupa untuk membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berada di kanan kiri serta diberikan pada orang yang belum memilki bibit kebaikan agar dia ikut menanam kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar