Rabu, 23 November 2011

puisi rindu

Saat rindu menyapa
Aku pejamkan mata
Menepis semua rasa yg ada
Rasa rindu yg bergelora dalam jiwa
... Helaan nafas sebagai pelampias penat
... Menepis kegalauan saat kesendirian
Hati menangis saat inginkan hadirnya
Bibir kelu
Saat ingin menyapanya
Aku terdiam tertunduk dalam ajaran agama tuhanku
MenCoba menjaga hati untuk sucikan diri
Agar jiwa yang kotor tidak tenggelap dalam nista
Berlumur dosa yg akan membawaku keneraka
Ya ALLAH ya tuhanku
Jagalah hatiku dan hatinya untukmu
Untuk dapatkan ridhamu

puisi cinta

Kasih...? Andai kau baca ini
Ingin ku katakan aku masih setia satu hati
Menantimu di tiap malam ku yang sepi
... Mencoba menikmati kesepian jiwaku yang hampir mati

... Merasakan panjangnya waktu ku menunggumu kembali
Menghitung waktu tiap detik menitku tanpa henti
Aku tak perduli,Bisik rayuan manis penuh janji
Tawa riang pesta menghibur diri

Harta melimpah memuaskan mimpi
Aku tak bisa lagi menikmati
Indah kupu" cantik di taman peri
Aku ingin kau kembali

Menghiasi hidupku menemani hariku
Hingga ajal nanti
Aku tak tahu
Apakah aku pantas untukmu
Bagiku kau terlalu indah
Laksana purnama yang meneduhkan jiwa
... Memberi ketenangan pada setiap pandangan
... Dan aku...?
Aku ini siapa
Tak ada yg istimewa didiriku
Hanya jiwa kerdil yg aku punya
Hingga aku tak mampu ungkap rasa cinta
Aku takut
Saat engkau tahu
Tersimpan cinta dalam hatiku untukmu
Engkau akan pergi
Meninggalkan aku sendiri
Karena aku tahu
Aku menyadari
tak pantas diri ini.

puisi bulan november

Seperti November membasahi wajahku..
Ku basuh bibirmu dgn lembut DO'A di bibirku..
Tak ada sentuhan selembut gerimis..
... Maka ketika kau memandangku..

... Aku tau sorga di sudut matamu..
Sejuk khusuk,angin tertunduk syahdu..
Dan nafas kita beradu..

Lirih matamu bening pagi..
Menyamarkan kata cinta pada sunyi yg ritmis..
Tak ada bisikan seindah gerimis..
Maka ketika kau bisikan padaku..

Aku tau, kau gerimis yg jatuh di wajahku..
Menuliskan huruf-huruf rindu..
Menitik ke lubuk kalbu..

Melukis pelangi di dadaku..
Menyempurnakan degup jantungku..
Tak ada lukisan seindah gerimis..
Maka ketika kau tersenyum padaku aku tau..

Siapa Bidadari di celah pelangi itu..

rayuan dengan puisi

Ku lukiskan dekapan yang pernah kau beri
Hatiku pun mengucap rindu pada sang kekasih hati
Laksana nyata manis nuansa biru
... Kisahku tercipta abadi bersamamu

... Sejenak ku sadar mengguncang sisi jiwaku
Terpaku tatap cermin diri cari harap tentangmu
Pudar hilang sudah anganku kan dirimu

Mendekam lara dalam ragaku
Ingin ku wujudkan mimpi yang terindah untukmu
Agar kau bahagia walau tak bersamaku
Hingga fajar membangunkanku dari tidurku

Jumat, 19 Agustus 2011

Hati Yang Merindu

Ditengah kebahagiaan hidupnya dan kesuksesan karier, hatinya merindu sosok pendamping hidup. Impiannya mewujudkan keluarga yang indah pernah sekali kandas. Hal itu membekas didalam hati. Membuat hatinya terluka perih. Setiap kali ibundanya yang disayangi bercerita keinginannya untuk lekas menimang cucu selalu saja membuat air matanya mengalir membasahi dipipi. "Ya Allah, entah sampai kapan Engkau kirimkan suami yang terbaik dari sisiMu untukku?," ucapnya lirih. Merenung dan terdiam dalam kesendirian. Dia yakin Allah akan mengutus seorang suami yang akan melamar dirinya.

Disela kesibukannya mengajar sampai kemudian disempatkannya mampir ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan harapan Allah segera memberikan jodoh untuk dirinya. Impian yang sudah lama dipendam. Kebiasaannya pergi ke toko buku adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Seorang ikhwan disamping sedang asyik membaca buku, membuatnya penasaran, dilirik buku yang sedang dibacanya. Senyumannya mengembang, perbincangan hangat tentang buku membuatnya saling tertarik. Perkenalan itu terus berlanjut.

Sore itu hatinya bergetar ketika membaca SMS dari ikhwan yang baru dikenalnya itu. "Assalamu'alaikum Ukhti, sholatlah istikharah memohon petunjuk kepada Allah, ana hendak melamar ukhti. Ditunggu jawabannya besok." Deg, jantungnya seolah berhenti. SMS itu membuatnya bersujud dihadapan Allah. Allah menjawab dengan kemudahan semua terjadi begitu cepat dan mengalir seolah tiada halangan. Proses walimah dilangsungkan dengan sederhana. Wajah sang ibunda nampak tersenyum dengan penuh keceriaan. Menyaksikan pernikahan putri yang dicintai karena telah mengantarkan putrinya ke gerbang pintu kebahagiaan. Hati yang merindu telah datang jodohnya.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. ( Qs. Ath-Thalaq : 4).

Wassalam,
M. Agus Syafii

Selasa, 16 Agustus 2011

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW


Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”

Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”

Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

“Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:

“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”