Rabu, 23 November 2011
luapan dari cinta
Ini bukan emosi
Tp puncak tertinggi dari pertahanan rasa benci
... Sekilas api asmara membakar nurani
Menguji kesabaran hati
... Atas cinta tulus yang aku beri
Pikiran buruk mulai menguasai
Hilang kendali atas prasangka yang tercipta karna iri
Bukankah cinta itu mengerti..
Buanglah emosi
Dan pertahankan cintaku yang aku jaga hingga kini
Sabarlah...
Cinta itu memahami
puisi mencari cinta
Mlm berlalu tanpa termaknai..
Trpuruk dsini sendiri..
D sudut hati nan gelisah..
... Menanti khadiranmu kian resah..
... gelap mlm trlantun dengan sendu..
Merdu mndayu kian pilu..
Mrebak wangi dlm kalbu..
Trpenjara sepi dlm rindu..
Ku mncari kekasih hatiku..
Tuk kmbali warnai hari''ku..
Hingga mlmku ta lg kelabu..
Mmelukmu spenuh hatiku..
indahnya cinta
Terima kasih cinta
Tulus hatimu
Indah cintamu
Memberi warna hidupku
... Suram dunia
... Kini telah sirna
Hilang bersama hadirmu cinta
Kau bawakan asa
Kau beriku cahaya
Kau bagaikan pelita
Menerangi setiap langkahku
Mengusir rasa sepiku
Saat aku sendiri
Kau hadir bagai mimpi
Menghapus pedih
Menjadi teman sejati
Kau selalu ada saat yg lain tiada
Yah.. Hanya kaulah..
Hanya kaulah yg selalu disisiku
Menemani hari-hariku
Kau sangat berarti buatku
puisi rindu
Saat rindu menyapa
Aku pejamkan mata
Menepis semua rasa yg ada
Rasa rindu yg bergelora dalam jiwa
... Helaan nafas sebagai pelampias penat
... Menepis kegalauan saat kesendirian
Hati menangis saat inginkan hadirnya
Bibir kelu
Saat ingin menyapanya
Aku terdiam tertunduk dalam ajaran agama tuhanku
MenCoba menjaga hati untuk sucikan diri
Agar jiwa yang kotor tidak tenggelap dalam nista
Berlumur dosa yg akan membawaku keneraka
Ya ALLAH ya tuhanku
Jagalah hatiku dan hatinya untukmu
Untuk dapatkan ridhamu
puisi cinta
Kasih...? Andai kau baca ini
Ingin ku katakan aku masih setia satu hati
Menantimu di tiap malam ku yang sepi
... Mencoba menikmati kesepian jiwaku yang hampir mati
... Merasakan panjangnya waktu ku menunggumu kembali
Menghitung waktu tiap detik menitku tanpa henti
Aku tak perduli,Bisik rayuan manis penuh janji
Tawa riang pesta menghibur diri
Harta melimpah memuaskan mimpi
Aku tak bisa lagi menikmati
Indah kupu" cantik di taman peri
Aku ingin kau kembali
Menghiasi hidupku menemani hariku
Hingga ajal nanti
Aku tak tahu
Apakah aku pantas untukmu
Bagiku kau terlalu indah
Laksana purnama yang meneduhkan jiwa
... Memberi ketenangan pada setiap pandangan
... Dan aku...?
Aku ini siapa
Tak ada yg istimewa didiriku
Hanya jiwa kerdil yg aku punya
Hingga aku tak mampu ungkap rasa cinta
Aku takut
Saat engkau tahu
Tersimpan cinta dalam hatiku untukmu
Engkau akan pergi
Meninggalkan aku sendiri
Karena aku tahu
Aku menyadari
tak pantas diri ini.
puisi bulan november
Seperti November membasahi wajahku..
Ku basuh bibirmu dgn lembut DO'A di bibirku..
Tak ada sentuhan selembut gerimis..
... Maka ketika kau memandangku..
... Aku tau sorga di sudut matamu..
Sejuk khusuk,angin tertunduk syahdu..
Dan nafas kita beradu..
Lirih matamu bening pagi..
Menyamarkan kata cinta pada sunyi yg ritmis..
Tak ada bisikan seindah gerimis..
Maka ketika kau bisikan padaku..
Aku tau, kau gerimis yg jatuh di wajahku..
Menuliskan huruf-huruf rindu..
Menitik ke lubuk kalbu..
Melukis pelangi di dadaku..
Menyempurnakan degup jantungku..
Tak ada lukisan seindah gerimis..
Maka ketika kau tersenyum padaku aku tau..
Siapa Bidadari di celah pelangi itu..
rayuan dengan puisi
Ku lukiskan dekapan yang pernah kau beri
Hatiku pun mengucap rindu pada sang kekasih hati
Laksana nyata manis nuansa biru
... Kisahku tercipta abadi bersamamu
... Sejenak ku sadar mengguncang sisi jiwaku
Terpaku tatap cermin diri cari harap tentangmu
Pudar hilang sudah anganku kan dirimu
Mendekam lara dalam ragaku
Ingin ku wujudkan mimpi yang terindah untukmu
Agar kau bahagia walau tak bersamaku
Hingga fajar membangunkanku dari tidurku
Jumat, 19 Agustus 2011
Hati Yang Merindu
Ditengah kebahagiaan hidupnya dan kesuksesan karier, hatinya merindu sosok pendamping hidup. Impiannya mewujudkan keluarga yang indah pernah sekali kandas. Hal itu membekas didalam hati. Membuat hatinya terluka perih. Setiap kali ibundanya yang disayangi bercerita keinginannya untuk lekas menimang cucu selalu saja membuat air matanya mengalir membasahi dipipi. "Ya Allah, entah sampai kapan Engkau kirimkan suami yang terbaik dari sisiMu untukku?," ucapnya lirih. Merenung dan terdiam dalam kesendirian. Dia yakin Allah akan mengutus seorang suami yang akan melamar dirinya.
Disela kesibukannya mengajar sampai kemudian disempatkannya mampir ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan harapan Allah segera memberikan jodoh untuk dirinya. Impian yang sudah lama dipendam. Kebiasaannya pergi ke toko buku adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Seorang ikhwan disamping sedang asyik membaca buku, membuatnya penasaran, dilirik buku yang sedang dibacanya. Senyumannya mengembang, perbincangan hangat tentang buku membuatnya saling tertarik. Perkenalan itu terus berlanjut.
Sore itu hatinya bergetar ketika membaca SMS dari ikhwan yang baru dikenalnya itu. "Assalamu'alaikum Ukhti, sholatlah istikharah memohon petunjuk kepada Allah, ana hendak melamar ukhti. Ditunggu jawabannya besok." Deg, jantungnya seolah berhenti. SMS itu membuatnya bersujud dihadapan Allah. Allah menjawab dengan kemudahan semua terjadi begitu cepat dan mengalir seolah tiada halangan. Proses walimah dilangsungkan dengan sederhana. Wajah sang ibunda nampak tersenyum dengan penuh keceriaan. Menyaksikan pernikahan putri yang dicintai karena telah mengantarkan putrinya ke gerbang pintu kebahagiaan. Hati yang merindu telah datang jodohnya.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. ( Qs. Ath-Thalaq : 4).
Wassalam,
M. Agus Syafii
Disela kesibukannya mengajar sampai kemudian disempatkannya mampir ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan harapan Allah segera memberikan jodoh untuk dirinya. Impian yang sudah lama dipendam. Kebiasaannya pergi ke toko buku adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Seorang ikhwan disamping sedang asyik membaca buku, membuatnya penasaran, dilirik buku yang sedang dibacanya. Senyumannya mengembang, perbincangan hangat tentang buku membuatnya saling tertarik. Perkenalan itu terus berlanjut.
Sore itu hatinya bergetar ketika membaca SMS dari ikhwan yang baru dikenalnya itu. "Assalamu'alaikum Ukhti, sholatlah istikharah memohon petunjuk kepada Allah, ana hendak melamar ukhti. Ditunggu jawabannya besok." Deg, jantungnya seolah berhenti. SMS itu membuatnya bersujud dihadapan Allah. Allah menjawab dengan kemudahan semua terjadi begitu cepat dan mengalir seolah tiada halangan. Proses walimah dilangsungkan dengan sederhana. Wajah sang ibunda nampak tersenyum dengan penuh keceriaan. Menyaksikan pernikahan putri yang dicintai karena telah mengantarkan putrinya ke gerbang pintu kebahagiaan. Hati yang merindu telah datang jodohnya.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. ( Qs. Ath-Thalaq : 4).
Wassalam,
M. Agus Syafii
Selasa, 16 Agustus 2011
Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Jumat, 15 April 2011
ULAT BULU & POLITIK
Ada banyak cara untuk muhasabah, ada banyak cara untuk belajar dan mengambil hikmah. Dalam konteks kehidupan , sebagai individu atau sebagai suatu bangsa, sering kali Sang Pencipta mengirim ujian, rintangan atau bahkan bencana. Agar kita membacanya sebagai ayat kauniyah (tanda-tanda alam) yang melecut untuk menata diri dan bangsa.
Dua pekan terakhir, fenomena ulat bulu mewabah disejumlah daerah. Sebagaimana dilansir berbagai media massa, serangan ulat bulu ini bermula dari Probolinggo Jawa Timur pada 28 Maret yang lalu. Dalam waktu yang relatif singkat, ulat bulu merebak tidak hanya di Jawa Timur, akan tetapi meluas hingga ke Semarang - Jawa Tengah, Buleleng – Bali, Garut, Sumedang, Bekasi dan beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat. Terakhir, ulat bulu bahkan merangsek hingga ke Ibu Kota Negara, Jakarta.
Meski tidak mati, namun tanaman yang diserang kondisinya kritis mengenaskan. Seluruh daun rontok dimakan ulat hingga merugikan, baik untuk fotosintesis yang mereproduksi oksigen, maupun ancaman gagal panen pada pohon yang menghasilkan buah seperti mangga. Menurut pandangan pakar dan pemerintah, salah satu sebab munculnya ulat bulu ini yaitu untuk mencari media metamorfosis menjadi kempompong sebagai bagian dari upaya mempertahankan kehidupannya.
Menjadi relevan membicarakan fenomena ulat bulu ini dengan konteks politik yang memang tak pernah sepi dari segala macam ikonisasi, mulai dari anak TK seperti kata mendiang Gusdur terhadap laku politik anggota DPR (tentu tidak semua demikian). Atau pasar untuk simplifikasi terhadap politik transaksi onal yang hampir-hampir menjadi budaya para politisi (sekali lagi, tidak semua demikian).
Entah skenario Allah SWT atau hanya kebetulan, awal munculnya ulat bulu di Probolinngo tersebut, persis bersamaan pembahasan pembangunan gedung baru DPR yang menelan anggaran negara sebesar Rp1,1,38.
Aksi penolakan yang membadai, baik dari LSM, Ormas, Mahasiswa, hingga organisasi sayap partai politik diacuhkan oleh pimpinan DPR. Putusan kelanjutan pembangunan DPR bahkan ditetapkan melalui rapat konsultasi pimpinan DPR yang bukan merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan di DPR. Bahwa sidang paripurna merupakan wadah yang seharusnya difungsikan untuk mengamil keputusan tersebut.
Maka sejumlah kecurigaan yang mencuat ke publik terkait adanya indikasi “proyekan” tak dapat ditepis. Betapa tidak, Partai Gerindra misalnya, yang secara institusi melalui fraksinya di DPR, menolak pembangunan tersebut. Namun apa lacur, salah seorang politisinya, Pius Lustrilanang dari Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR yang menjabat sebagai wakil ketua BURT, justru tidak satu suara dengan partainya.
Aksi pasang badan hingga statemen apologetik menampakkan, betapa imun nurani sebagian anggota DPR, telah pecah dan keropos. Salah satunya, komentar Marzuki Alie, Ketua DPR yang mereduksi krtisisme dan peran rakyat. Simaklah keangkuhan politisi Demokrat ini, yang berulang kali menyayat hari rakyat dengan komentar tajamnya.
“Rakyat biasa jangan diajak membahas pembangunan gedung baru. Hanya orang-orang elit, orang-orang pintar yang bisa diajak membicarakan masalah itu. Rakyat biasa dari hari ke hari yang penting perutnya terisi, kerja, ada rumah, ada pendidikan, selesai. Jangan diajak urus yang begini, ajak orang-orang pintar bicara, ajak kampus bicara.” (Kompas, 4/4/)
Atau komentar sinis Nudirman Munir, wakil ketua “Badan Kehormatan DPR” yang juga politisi Golkar, ”Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Itu jelas berbeda. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan, kita harus realistis."
Sementara penolakan Fraksi PAN dan Partai Gerindra tak diindahkan, aksi walk out PDIP dalam rapat paripurna akibat ditolak permintaannya untuk membahas kembali rencana pembangunan gedung baru DPR tersebut, juga dibiarkan bagai angin lalu. Terlepas dari aksi akrobatik politik untuk pencitraan.
Namun, rakyat memang sudah mahfum dengan lakon politisi dan para pemimpin negeri. Karenanya, suara riuh dan harmoni yang senada selalu menyesakkan nurani saat bicara soal anggaran, plesiran, fasilitas tambahan, kenaikan gaji atau term-term profan lainnya. Apatisme terhadap politik, pun menjulang.
Data terhadap semakin menurunnya partisipasi politik masyarakat dalam pemilu, dengan sangat kuat mengindikasikan tesis tersebut. Hal itu terlihat dari survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) sepanjang 2010. Kecenderungan menurun terlihat pada (pemilih) Partai Demokrat. Jika pemilu diadakan sekarang, Demokrat mendapat suara terbanyak 21,4 persen. Padahal pada bulan Februari 2010 elektabilitas Demokrat mencapai 32 persen. Demikian lansir Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi (6/1/2011).
Walau tidak memiliki kausalitas secara empirik, setidaknya nalar nurani –khususnya para pemimpin- bangsa ini, bisa merefleksikan dirinya dari serangan musibah dan atau bencana ulat bulu yang bisa saja menghampiri kantor-kantor pemerintahan di Jakarta.
Demokrasi yang sedang dibangun, jangan sampai digerogoti dengan pragmatisme dan lupa darat. Atau seperti ungkapan lain, “kacang lupa pada kulitnya”. Katanya anggota Dewan Perwakilan Rakyat, namun lupa pada yang diwakili.
Persis seperti ulat bulu yang jika tidak dicegah, maka mengurangi produktifitas tanaman dalam proses fotosintesis yang berakibat bagi kehidupan. Termasuk juga ancaman gagal panen terhadap tanaman yang diserangnya. Kini demokrasi sedang bersemi, semangat berdemorkasi tumbuh membenih. Kita berlindung dari laku politisi yang menggerogoti hingga menyebabkan demokrasi tak lagi mampu menghasilkan oksigen untuk kelanjutan kehidupan bangsa ini.
Karena itu Allah SWT. dalam beberapa firmanNya juga mendorong manusia untuk melakukan ibadah tafakur. Al Qur’an sering kali mengulang-ulang perintah untuk berfikir. Sebagaimana yang terdapat di dalam surat Al An’am (binatang ternak) ayat 50
أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ
Maka Apakah kamu tidak merenung? (Al An’am:50).
Dua pekan terakhir, fenomena ulat bulu mewabah disejumlah daerah. Sebagaimana dilansir berbagai media massa, serangan ulat bulu ini bermula dari Probolinggo Jawa Timur pada 28 Maret yang lalu. Dalam waktu yang relatif singkat, ulat bulu merebak tidak hanya di Jawa Timur, akan tetapi meluas hingga ke Semarang - Jawa Tengah, Buleleng – Bali, Garut, Sumedang, Bekasi dan beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat. Terakhir, ulat bulu bahkan merangsek hingga ke Ibu Kota Negara, Jakarta.
Meski tidak mati, namun tanaman yang diserang kondisinya kritis mengenaskan. Seluruh daun rontok dimakan ulat hingga merugikan, baik untuk fotosintesis yang mereproduksi oksigen, maupun ancaman gagal panen pada pohon yang menghasilkan buah seperti mangga. Menurut pandangan pakar dan pemerintah, salah satu sebab munculnya ulat bulu ini yaitu untuk mencari media metamorfosis menjadi kempompong sebagai bagian dari upaya mempertahankan kehidupannya.
Menjadi relevan membicarakan fenomena ulat bulu ini dengan konteks politik yang memang tak pernah sepi dari segala macam ikonisasi, mulai dari anak TK seperti kata mendiang Gusdur terhadap laku politik anggota DPR (tentu tidak semua demikian). Atau pasar untuk simplifikasi terhadap politik transaksi onal yang hampir-hampir menjadi budaya para politisi (sekali lagi, tidak semua demikian).
Entah skenario Allah SWT atau hanya kebetulan, awal munculnya ulat bulu di Probolinngo tersebut, persis bersamaan pembahasan pembangunan gedung baru DPR yang menelan anggaran negara sebesar Rp1,1,38.
Aksi penolakan yang membadai, baik dari LSM, Ormas, Mahasiswa, hingga organisasi sayap partai politik diacuhkan oleh pimpinan DPR. Putusan kelanjutan pembangunan DPR bahkan ditetapkan melalui rapat konsultasi pimpinan DPR yang bukan merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan di DPR. Bahwa sidang paripurna merupakan wadah yang seharusnya difungsikan untuk mengamil keputusan tersebut.
Maka sejumlah kecurigaan yang mencuat ke publik terkait adanya indikasi “proyekan” tak dapat ditepis. Betapa tidak, Partai Gerindra misalnya, yang secara institusi melalui fraksinya di DPR, menolak pembangunan tersebut. Namun apa lacur, salah seorang politisinya, Pius Lustrilanang dari Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR yang menjabat sebagai wakil ketua BURT, justru tidak satu suara dengan partainya.
Aksi pasang badan hingga statemen apologetik menampakkan, betapa imun nurani sebagian anggota DPR, telah pecah dan keropos. Salah satunya, komentar Marzuki Alie, Ketua DPR yang mereduksi krtisisme dan peran rakyat. Simaklah keangkuhan politisi Demokrat ini, yang berulang kali menyayat hari rakyat dengan komentar tajamnya.
“Rakyat biasa jangan diajak membahas pembangunan gedung baru. Hanya orang-orang elit, orang-orang pintar yang bisa diajak membicarakan masalah itu. Rakyat biasa dari hari ke hari yang penting perutnya terisi, kerja, ada rumah, ada pendidikan, selesai. Jangan diajak urus yang begini, ajak orang-orang pintar bicara, ajak kampus bicara.” (Kompas, 4/4/)
Atau komentar sinis Nudirman Munir, wakil ketua “Badan Kehormatan DPR” yang juga politisi Golkar, ”Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Itu jelas berbeda. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan, kita harus realistis."
Sementara penolakan Fraksi PAN dan Partai Gerindra tak diindahkan, aksi walk out PDIP dalam rapat paripurna akibat ditolak permintaannya untuk membahas kembali rencana pembangunan gedung baru DPR tersebut, juga dibiarkan bagai angin lalu. Terlepas dari aksi akrobatik politik untuk pencitraan.
Namun, rakyat memang sudah mahfum dengan lakon politisi dan para pemimpin negeri. Karenanya, suara riuh dan harmoni yang senada selalu menyesakkan nurani saat bicara soal anggaran, plesiran, fasilitas tambahan, kenaikan gaji atau term-term profan lainnya. Apatisme terhadap politik, pun menjulang.
Data terhadap semakin menurunnya partisipasi politik masyarakat dalam pemilu, dengan sangat kuat mengindikasikan tesis tersebut. Hal itu terlihat dari survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) sepanjang 2010. Kecenderungan menurun terlihat pada (pemilih) Partai Demokrat. Jika pemilu diadakan sekarang, Demokrat mendapat suara terbanyak 21,4 persen. Padahal pada bulan Februari 2010 elektabilitas Demokrat mencapai 32 persen. Demikian lansir Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi (6/1/2011).
Walau tidak memiliki kausalitas secara empirik, setidaknya nalar nurani –khususnya para pemimpin- bangsa ini, bisa merefleksikan dirinya dari serangan musibah dan atau bencana ulat bulu yang bisa saja menghampiri kantor-kantor pemerintahan di Jakarta.
Demokrasi yang sedang dibangun, jangan sampai digerogoti dengan pragmatisme dan lupa darat. Atau seperti ungkapan lain, “kacang lupa pada kulitnya”. Katanya anggota Dewan Perwakilan Rakyat, namun lupa pada yang diwakili.
Persis seperti ulat bulu yang jika tidak dicegah, maka mengurangi produktifitas tanaman dalam proses fotosintesis yang berakibat bagi kehidupan. Termasuk juga ancaman gagal panen terhadap tanaman yang diserangnya. Kini demokrasi sedang bersemi, semangat berdemorkasi tumbuh membenih. Kita berlindung dari laku politisi yang menggerogoti hingga menyebabkan demokrasi tak lagi mampu menghasilkan oksigen untuk kelanjutan kehidupan bangsa ini.
Karena itu Allah SWT. dalam beberapa firmanNya juga mendorong manusia untuk melakukan ibadah tafakur. Al Qur’an sering kali mengulang-ulang perintah untuk berfikir. Sebagaimana yang terdapat di dalam surat Al An’am (binatang ternak) ayat 50
أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ
Maka Apakah kamu tidak merenung? (Al An’am:50).
PERAN NEGARA DAN RAKYAT DALAM POLITIK ISLAM
Politik (siyâsah) Islam sebagai sebuah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam. Dari definisi ini pula, kita klasifikasikan bahwa politik Islam melibatkan dua pelaku, yaitu Negara dan umat/ rakyat, kemudian meliputi pengaturan dalam negeri dan luar negeri, terakhir adalah sumber legislasinya adalah hukum Islam. Dalam tulisan ini penulis akan berbagi ilmu terkait dengan peran Negara dan umat dalam politik Islam.
Pembahasan ini menurut penulis urgen untuk diketahui, karena di tengah-tengah umat kita ini, masih ada yang menaruh rasa curiga, bahwa ketika politik Islam diterapkan maka yang akan ada adalah otoriter penguasa atas nama agama dan moral. Peran umat akan ditelikung, dimana umat tidak diberi kebebasan dalam mengemukakan pendapatnya di muka umum bahkan di depan penguasa sekalipun. Benarkah demikian?
Peran Kepala Negara
Untuk mengurus kepentingan umat secara praktis, syara’ memberikan tanggung jawab hanya kepada penguasa. Penguasa disini adalah kepala Negara (Khalifah) dan penguasa lainnya yang diangkat oleh Khalifah ataupun melalui pemberian bai’at (Zallum, 2004). Pengurusan rakyat dalam Islam memang diserahkan kepada penguasa, sebagaimana salah satu dalil berikut;
"Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya (tasûsûhum) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan banyak khalifah'. (H.R. Imam Muslim dari Abi Hazim)
Hadist ini dengan jelas menunjukkan bahwa pengaturan kepentingan umat baik internal dan eksternal berada di tangan khalifah sebagai kepala Negara. Lalu apa peran kepala Negara dalam politik Islam?
Pertama, kewajiban kepala Negara adalah menjalankan hukum Islam sebagai konstitusi Negara (UU). Dia tidak boleh mengadopsi aturan yang berada di luar konteks hukum Islam baik metode pengambilan hukumnya ataupun hukumnya itu sendiri.
Kedua, bertanggungjawab terhadap politik dalam dan luar negeri sekaligus. Termasuk dialah yang memimpin kepemimpinan pasukan. Dia juga yang memiliki hak untuk mengumumkan perang, damai, gencatan senjata serta perjanjian-perjanjian yang lainnya.
Ketiga, berhak menerima dan menolak duta-duta asing, serta menentukan dan memberhentikan duta-duta Islam.
Keempat, berhak mengangkat para mu'awin (sejenis wakil kepala Negara), wali (setingkat gubernur) dan mereka semua bertanggungjawab di hadapan khalifah, sebagaimana mereka semua harus bertanggungjawab di depan majelis umat (majlis perwakilan rakyat).
Kelima, mengangkat dan memberhentikan ketua qadli (sejenis Mahkamah Agung), dirjen departemen-departemen, panglima perang, serta para komandan yang membawa bendera-benderanya. Mereka semuanya bertanggungjawab di hadapan khalifah, dan tidak perlu bertanggungjawab di hadapan majelis umat.
Keenam, berhak mengadopsi hukum-hukum syara', dimana dengan berpegang pada hukum-hukum tersebut disusunlah anggaran pendapatan negara. Dia juga yang berhak menentukan rincian anggaran tersebut, beserta pengeluaran yang diperlukan untuk masing-masing bagian. Baik semuanya tadi berkaitan dengan pemasukan maupun pengeluaran (Zallum, 2002).
Dalil tentang wewenang kepala Negara di atas disandarkan pada perbuatan Rasulullah saw, kemudian disandarkan pada fakta kepala Negara (khalifah) itu sendiri yang merupakan kepemimpinan umum (universal) bagi seluruh kaum muslimin seluruh dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syara', serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia, itulah yang menjadi dalilnya.
Peran Umat (Masyarakat)
Kewajiban utama umat atau masyarakat dalam sebuah Negara Islam adalah taat kepada Amir (penguasa). Ketaatan umat ini ditunjukkan dengan bai’at, baik bai’at in’iqod ataupun bai’at tho’at. Sebagaimana firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. “ (TQS. Al Nisa’ (4): 59)
Selain berkewajiban menaati pengusa, umat memiliki tiga peran penting, yaitu; kekuasaan untuk memilih penguasa, terlibat dalam musyawarah dan mengoreksi penguasa.
Dalam Islam, kekuasaan diserahkan kepada umat, artinya adalah umatlah yang berhak menentukan dan memilih penguasa dengan metode bai’at. Rasulullah saw sendiri saja sebagai seorang Nabi mengambil bai’at atas kekuasaan dan pemerintahan untuk dirinya dari penduduk Yastrib dalam bai’at aqobah kedua. Aktivitas Nabi Muhammad saw ini menjadi dalil yang tegas bahwa kekuasaan berada di tangan umat (Khalidi, 2004).
Peran kedua umat adalah berperan aktif dalam musyawarah (al syûrâ), dimana al syûrâ atau pengambilan pendapat dalam Islam adalah salah satu konsepsi politik yang akarnya menancap kuat di tengah masyarakat Islam dan menjadi keistimewaan sistem pemerintahan Islam dari sistem pemerintahan lainnya. Syûrâ ini berdasarkan dalil berikut;
“….dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…”. (TQS. Ali Imran (3): 159)
Namun perlu menjadi catatan, bahwa musyawarah antara kepala Negara dengan umat dilakukan dalam perkara yang mubah, bukan dalam masalah hukum yang sudah ditetapkan oleh syara’. Ibnu ‘Arabi menyatakan bahwa Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan yang berkaitan dengan kemaslahatan perang, beliau tidak bermusyawarah dalam masalah hukum, karena hukum diturunkan dari sisi Allah atas seluruh macamnya (Khalidi, 2004). Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Siyasah al Syar’iyah, beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berlemah lembut kepada para sahabatnya, dan agar orang-orang setelah beliau mengikutinya dan untuk mengeluarkan pendapat dari mereka dalam perkara yang tidak dijelaskan oleh wahyu diantara masalah strategi perang dan perkara-perkara parsial dan sebagainya. Rasul adalah orang yang paling mengutamakan musyawarah.”
bahkan Imam Bukhari pernah berkata:
“Para Imam (Khalifah) setelah Rasul saw secara kontinyu bermusyawarah dengan ahli ilmu dalam persoalan yang mubah, agar mereka mengambil perkara yang memudahkannya dan jika al Quran dan al Sunnah telah menetapkan, maka mereka tidak berpegang pada selainnya sebagai manifestasi meneladani Nabi saw” (Fath al Bâri’ Juz 17 hal 105)
Tentu saja aspirasi rakyat ini diwakili oleh apa yang disebut dengan wakil rakyat dalam majlis al ummah.
Peran ketiga adalah umat wajib mengoreksi seorang pemimpin atau penguasa. Adanya kewajiban untuk menaati penguasa, meskipun ia berbuat zhalim atau merampas hak-hak rakyat, bukan berarti bahwa umat boleh mendiamkannya. Penguasa harus ditaati namun dia juga harus dikoreksi setiap aktivitas dan perilakunya. Allah swt mewajibkan umat Islam untuk mengoreksi bahkan mengganti para penguasa apabila merampas hak rakyat, mengabaikan kepentingan umat, menyelisihi hukum Islam dan apabila ia berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah swt. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Akan ada para amir (penguasa), maka kalian (ada yang) mengakui perbuatannya dan (ada yang) mengingkarinya. Siapa saja yang mengakui perbuatannya (karena tidak bertentangan dengan hukum syara’), maka dia tidak diminta tanggung jawabnya, dan siapa saja yang mengingkari perbuatannya maka dia akan selamat. Tetapi siapa saja yang ridha (dengan perbuatannya yang bertentangan dengan hukum syara’) dan mengikutinya (maka dia berdosa). Para sahabat bertanya: “Apakah kita tidak memerangi mereka?” Beliau saw menjawab: “Tidak! Selama mereka menegakkan shalat (hukum-hukum Islam)”
Yang lebih tegas dinyatakan dalam hadits dari Attiyah meriwayatkan bahwa Abu Said ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran kepada penguasa yang zhalim” (HR. Abu Dawud)
Pembahasan ini menurut penulis urgen untuk diketahui, karena di tengah-tengah umat kita ini, masih ada yang menaruh rasa curiga, bahwa ketika politik Islam diterapkan maka yang akan ada adalah otoriter penguasa atas nama agama dan moral. Peran umat akan ditelikung, dimana umat tidak diberi kebebasan dalam mengemukakan pendapatnya di muka umum bahkan di depan penguasa sekalipun. Benarkah demikian?
Peran Kepala Negara
Untuk mengurus kepentingan umat secara praktis, syara’ memberikan tanggung jawab hanya kepada penguasa. Penguasa disini adalah kepala Negara (Khalifah) dan penguasa lainnya yang diangkat oleh Khalifah ataupun melalui pemberian bai’at (Zallum, 2004). Pengurusan rakyat dalam Islam memang diserahkan kepada penguasa, sebagaimana salah satu dalil berikut;
"Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya (tasûsûhum) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan banyak khalifah'. (H.R. Imam Muslim dari Abi Hazim)
Hadist ini dengan jelas menunjukkan bahwa pengaturan kepentingan umat baik internal dan eksternal berada di tangan khalifah sebagai kepala Negara. Lalu apa peran kepala Negara dalam politik Islam?
Pertama, kewajiban kepala Negara adalah menjalankan hukum Islam sebagai konstitusi Negara (UU). Dia tidak boleh mengadopsi aturan yang berada di luar konteks hukum Islam baik metode pengambilan hukumnya ataupun hukumnya itu sendiri.
Kedua, bertanggungjawab terhadap politik dalam dan luar negeri sekaligus. Termasuk dialah yang memimpin kepemimpinan pasukan. Dia juga yang memiliki hak untuk mengumumkan perang, damai, gencatan senjata serta perjanjian-perjanjian yang lainnya.
Ketiga, berhak menerima dan menolak duta-duta asing, serta menentukan dan memberhentikan duta-duta Islam.
Keempat, berhak mengangkat para mu'awin (sejenis wakil kepala Negara), wali (setingkat gubernur) dan mereka semua bertanggungjawab di hadapan khalifah, sebagaimana mereka semua harus bertanggungjawab di depan majelis umat (majlis perwakilan rakyat).
Kelima, mengangkat dan memberhentikan ketua qadli (sejenis Mahkamah Agung), dirjen departemen-departemen, panglima perang, serta para komandan yang membawa bendera-benderanya. Mereka semuanya bertanggungjawab di hadapan khalifah, dan tidak perlu bertanggungjawab di hadapan majelis umat.
Keenam, berhak mengadopsi hukum-hukum syara', dimana dengan berpegang pada hukum-hukum tersebut disusunlah anggaran pendapatan negara. Dia juga yang berhak menentukan rincian anggaran tersebut, beserta pengeluaran yang diperlukan untuk masing-masing bagian. Baik semuanya tadi berkaitan dengan pemasukan maupun pengeluaran (Zallum, 2002).
Dalil tentang wewenang kepala Negara di atas disandarkan pada perbuatan Rasulullah saw, kemudian disandarkan pada fakta kepala Negara (khalifah) itu sendiri yang merupakan kepemimpinan umum (universal) bagi seluruh kaum muslimin seluruh dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syara', serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia, itulah yang menjadi dalilnya.
Peran Umat (Masyarakat)
Kewajiban utama umat atau masyarakat dalam sebuah Negara Islam adalah taat kepada Amir (penguasa). Ketaatan umat ini ditunjukkan dengan bai’at, baik bai’at in’iqod ataupun bai’at tho’at. Sebagaimana firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. “ (TQS. Al Nisa’ (4): 59)
Selain berkewajiban menaati pengusa, umat memiliki tiga peran penting, yaitu; kekuasaan untuk memilih penguasa, terlibat dalam musyawarah dan mengoreksi penguasa.
Dalam Islam, kekuasaan diserahkan kepada umat, artinya adalah umatlah yang berhak menentukan dan memilih penguasa dengan metode bai’at. Rasulullah saw sendiri saja sebagai seorang Nabi mengambil bai’at atas kekuasaan dan pemerintahan untuk dirinya dari penduduk Yastrib dalam bai’at aqobah kedua. Aktivitas Nabi Muhammad saw ini menjadi dalil yang tegas bahwa kekuasaan berada di tangan umat (Khalidi, 2004).
Peran kedua umat adalah berperan aktif dalam musyawarah (al syûrâ), dimana al syûrâ atau pengambilan pendapat dalam Islam adalah salah satu konsepsi politik yang akarnya menancap kuat di tengah masyarakat Islam dan menjadi keistimewaan sistem pemerintahan Islam dari sistem pemerintahan lainnya. Syûrâ ini berdasarkan dalil berikut;
“….dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…”. (TQS. Ali Imran (3): 159)
Namun perlu menjadi catatan, bahwa musyawarah antara kepala Negara dengan umat dilakukan dalam perkara yang mubah, bukan dalam masalah hukum yang sudah ditetapkan oleh syara’. Ibnu ‘Arabi menyatakan bahwa Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan yang berkaitan dengan kemaslahatan perang, beliau tidak bermusyawarah dalam masalah hukum, karena hukum diturunkan dari sisi Allah atas seluruh macamnya (Khalidi, 2004). Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Siyasah al Syar’iyah, beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berlemah lembut kepada para sahabatnya, dan agar orang-orang setelah beliau mengikutinya dan untuk mengeluarkan pendapat dari mereka dalam perkara yang tidak dijelaskan oleh wahyu diantara masalah strategi perang dan perkara-perkara parsial dan sebagainya. Rasul adalah orang yang paling mengutamakan musyawarah.”
bahkan Imam Bukhari pernah berkata:
“Para Imam (Khalifah) setelah Rasul saw secara kontinyu bermusyawarah dengan ahli ilmu dalam persoalan yang mubah, agar mereka mengambil perkara yang memudahkannya dan jika al Quran dan al Sunnah telah menetapkan, maka mereka tidak berpegang pada selainnya sebagai manifestasi meneladani Nabi saw” (Fath al Bâri’ Juz 17 hal 105)
Tentu saja aspirasi rakyat ini diwakili oleh apa yang disebut dengan wakil rakyat dalam majlis al ummah.
Peran ketiga adalah umat wajib mengoreksi seorang pemimpin atau penguasa. Adanya kewajiban untuk menaati penguasa, meskipun ia berbuat zhalim atau merampas hak-hak rakyat, bukan berarti bahwa umat boleh mendiamkannya. Penguasa harus ditaati namun dia juga harus dikoreksi setiap aktivitas dan perilakunya. Allah swt mewajibkan umat Islam untuk mengoreksi bahkan mengganti para penguasa apabila merampas hak rakyat, mengabaikan kepentingan umat, menyelisihi hukum Islam dan apabila ia berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah swt. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Akan ada para amir (penguasa), maka kalian (ada yang) mengakui perbuatannya dan (ada yang) mengingkarinya. Siapa saja yang mengakui perbuatannya (karena tidak bertentangan dengan hukum syara’), maka dia tidak diminta tanggung jawabnya, dan siapa saja yang mengingkari perbuatannya maka dia akan selamat. Tetapi siapa saja yang ridha (dengan perbuatannya yang bertentangan dengan hukum syara’) dan mengikutinya (maka dia berdosa). Para sahabat bertanya: “Apakah kita tidak memerangi mereka?” Beliau saw menjawab: “Tidak! Selama mereka menegakkan shalat (hukum-hukum Islam)”
Yang lebih tegas dinyatakan dalam hadits dari Attiyah meriwayatkan bahwa Abu Said ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran kepada penguasa yang zhalim” (HR. Abu Dawud)
SEBAIKNYA SEMUA TAHU.
(uuppss...afwan klo ada yg kesindir ya...^_^ V)
"20 ciri ikhwan genit" eitsss jangan salah,akhwat genit juga ada loh.
1. Ikhwan genit akan bergaya dia paham agama tapi sebenarnya biasa-biasa saja.
2. Ikhwan genit jarang ke Masjid, ke Masjidnya mungkin pas jum'atan saja. Pas Jum'atan aja masih diselingi ngantuk, rame sendiri, dan sibuk dengan HP nya.
3. Ikhwan genit, akan menyingsingkan celananya alias menjadi sosok congklangers (biar ga isbal) di depan para akhwat, sedang kalo bertemu dengan cewek biasa diturunkan lagi celananya. Jadi alim banget dan nggak salaman kalo sama akhwat, tapi mendadak 'gaul' kalo sama cewek biasa.
4. Ikhwan genit suka chatting dengan akhwat, diskusi dengan hal-hal yang nggak perlu, katanya sih dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah.
5. Ikhwan genit suka nelpon-nelpon akhwat tanpa agenda yang jelas, lama banget, dan mendayu-dayu, padahal sms saja bisa.
6. Ikhwan genit, memanfaatkan amanah dakwah nya untuk kepentingan dirinya, dan menseleksi akhwat, menilai akhwat layak tidak untuk dirinya, sekufu tidak dengan dirinya, dan orientasi pribadi lainnya.
7. Ikhwan genit memanfaatkan kepandaiannya dalam skill tertentu untuk menarik akhwat, misal skill memperbaiki komputer,HP, pemrograman, buat blog (site) dan buat proposal atau kerja teknis lainnya.
8. Ikhwan genit berjalan suka jelalatan, kalo ada akhwat yang melintas di depannya selalu memberi penilaian, "akhwat ini 80, akhwat itu 70, dsb"
9. Ikhwan genit, sok perhatian ke akhwat, mempunyai belas kasihan yang terlalu berlebihan, padahal biasa-biasa saja sebenarnya bisa.
10. Ikhwan genit, suka bercanda dan cair dengan akhwat, dan nggak risih dengan syuro yang berhadap-hadapan.
11. Ikhwan genit suka sekali sms tausiyah padahal sebenarnya dia lagi kangen saja sama akhwat idolanya, menurut saya ketika sms tausiyah, "sent to all", nggak ada spesifikasi untuk ikhwan / akhwat tertentu, atau untuk lebih berhati-hati, ikhwan sms tausiyahnya ke ikhwan dan akhwat ke akhwat.
12. Ikhwan genit yang kebetulan mendapat amanah di kaderisasi, ikut perhatian dan sok campur tangan dengan kaderisasi akhwat, padahal jelas-jelas kaderisasi ikhwan dan akhwat benar-benar sesuatu yang terpisah, dan semuanya sudah ada yang ngurusin.
13. Ikhwan genit suka menjanjikan "nikah" kepada seorang akhwat padahal itu masih lama banget menikahnya alias ngetek duluan, dann yang terjadi akhirnya adalah back street. Wew parah !
14. Ikhwan genit suka koleksi foto akhwat, dan suka meng-crop foto akhwat yang jadi idolanya, dan lebih gila lagi, menjadikannya background atau screen server di komputernya atau laptopnya.
15. Ikhwan genit suka koleksi teman-teman akhwat dengan FB, YM, dan sok perhatian ngasih komen di FB nya.
16. Ikhwan genit ga suka kajian, tapi seneng beli buku, padahal bukunya juga nggak di baca.
17. Ikhwan genit suka jalan-jalan di Sunday morning dan melotot lihat akhwat cantik, dan nggak bisa Godhul bashor, ayo ikhwan tundukkan pandanganmu, biar kami bisa leluasa kalau harus berjalan di depanmu. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, … " (QS.An-Nuur:30-310)
18. Ikhwan genit dalam obrolan teman sesamanya yang dibicarakan selalu seputar akhwat, minim membahas ilmu dien, dan strategi dakwah.
19. Ikhwan genit sering berkunjung ke tempat akhwat, banyak sekali alasannya, entah mau pinjem buku, mau ngantar sesuatu, atau apalah tanpa ada alasan yang jelas.
20. Ikhwan genit suka tertawa terbahak-bahak nggak karuan kalau lagi berkumpul sesamanya, padahal kelihatannya anteng dan alim banget pas di depan akhwat dan pas syuro'.
Mari bercermin diri dengan jujur, kalo ada di antara tanda-tanda di atas pada diri anda, yuk berubah. Tiap orang pasti bersalah, orang yang beruntung adalah yang merasa dirinya banyak dosa bukan banyak amal dan yang paling baik adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya.
"Dan mohonlah ampun kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (Al-Muzammil: 20).
"20 ciri ikhwan genit" eitsss jangan salah,akhwat genit juga ada loh.
1. Ikhwan genit akan bergaya dia paham agama tapi sebenarnya biasa-biasa saja.
2. Ikhwan genit jarang ke Masjid, ke Masjidnya mungkin pas jum'atan saja. Pas Jum'atan aja masih diselingi ngantuk, rame sendiri, dan sibuk dengan HP nya.
3. Ikhwan genit, akan menyingsingkan celananya alias menjadi sosok congklangers (biar ga isbal) di depan para akhwat, sedang kalo bertemu dengan cewek biasa diturunkan lagi celananya. Jadi alim banget dan nggak salaman kalo sama akhwat, tapi mendadak 'gaul' kalo sama cewek biasa.
4. Ikhwan genit suka chatting dengan akhwat, diskusi dengan hal-hal yang nggak perlu, katanya sih dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah.
5. Ikhwan genit suka nelpon-nelpon akhwat tanpa agenda yang jelas, lama banget, dan mendayu-dayu, padahal sms saja bisa.
6. Ikhwan genit, memanfaatkan amanah dakwah nya untuk kepentingan dirinya, dan menseleksi akhwat, menilai akhwat layak tidak untuk dirinya, sekufu tidak dengan dirinya, dan orientasi pribadi lainnya.
7. Ikhwan genit memanfaatkan kepandaiannya dalam skill tertentu untuk menarik akhwat, misal skill memperbaiki komputer,HP, pemrograman, buat blog (site) dan buat proposal atau kerja teknis lainnya.
8. Ikhwan genit berjalan suka jelalatan, kalo ada akhwat yang melintas di depannya selalu memberi penilaian, "akhwat ini 80, akhwat itu 70, dsb"
9. Ikhwan genit, sok perhatian ke akhwat, mempunyai belas kasihan yang terlalu berlebihan, padahal biasa-biasa saja sebenarnya bisa.
10. Ikhwan genit, suka bercanda dan cair dengan akhwat, dan nggak risih dengan syuro yang berhadap-hadapan.
11. Ikhwan genit suka sekali sms tausiyah padahal sebenarnya dia lagi kangen saja sama akhwat idolanya, menurut saya ketika sms tausiyah, "sent to all", nggak ada spesifikasi untuk ikhwan / akhwat tertentu, atau untuk lebih berhati-hati, ikhwan sms tausiyahnya ke ikhwan dan akhwat ke akhwat.
12. Ikhwan genit yang kebetulan mendapat amanah di kaderisasi, ikut perhatian dan sok campur tangan dengan kaderisasi akhwat, padahal jelas-jelas kaderisasi ikhwan dan akhwat benar-benar sesuatu yang terpisah, dan semuanya sudah ada yang ngurusin.
13. Ikhwan genit suka menjanjikan "nikah" kepada seorang akhwat padahal itu masih lama banget menikahnya alias ngetek duluan, dann yang terjadi akhirnya adalah back street. Wew parah !
14. Ikhwan genit suka koleksi foto akhwat, dan suka meng-crop foto akhwat yang jadi idolanya, dan lebih gila lagi, menjadikannya background atau screen server di komputernya atau laptopnya.
15. Ikhwan genit suka koleksi teman-teman akhwat dengan FB, YM, dan sok perhatian ngasih komen di FB nya.
16. Ikhwan genit ga suka kajian, tapi seneng beli buku, padahal bukunya juga nggak di baca.
17. Ikhwan genit suka jalan-jalan di Sunday morning dan melotot lihat akhwat cantik, dan nggak bisa Godhul bashor, ayo ikhwan tundukkan pandanganmu, biar kami bisa leluasa kalau harus berjalan di depanmu. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, … " (QS.An-Nuur:30-310)
18. Ikhwan genit dalam obrolan teman sesamanya yang dibicarakan selalu seputar akhwat, minim membahas ilmu dien, dan strategi dakwah.
19. Ikhwan genit sering berkunjung ke tempat akhwat, banyak sekali alasannya, entah mau pinjem buku, mau ngantar sesuatu, atau apalah tanpa ada alasan yang jelas.
20. Ikhwan genit suka tertawa terbahak-bahak nggak karuan kalau lagi berkumpul sesamanya, padahal kelihatannya anteng dan alim banget pas di depan akhwat dan pas syuro'.
Mari bercermin diri dengan jujur, kalo ada di antara tanda-tanda di atas pada diri anda, yuk berubah. Tiap orang pasti bersalah, orang yang beruntung adalah yang merasa dirinya banyak dosa bukan banyak amal dan yang paling baik adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya.
"Dan mohonlah ampun kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (Al-Muzammil: 20).
Kenikmatan Memaafkan
Interaksi antara sesama manusia memungkinkan terjadinya gesekan, salah persepsi, salah paham, salah berucap, salah bertindak, tidak menepati janji, dan sebagainya. Semua itu bisa menimbulkan sakit hati. Sakit hati adalah sebuah beban kepedihan yang berat dan sangat tidak enak rasanya. Karena itu, menjadi penting bagi siapapun agar bisa melepaskan beban kepedihan ini.
Memaafkan adalah salah satu kualitas takwa. Dan Tuhan menilai tinggi rendahnya derajat manusia dengan ukuran takwa ini. Maka siapapun yang ingin dinilai tinggi oleh Tuhan, jadilah pribadi pemaaf. Kenapa ini penting? Karena siapapun yang dinilai tinggi oleh Tuhan akan mendapatkan banyak keuntungan dariNya. Dipercaya atas rizki yang banyak. Dihindarkan dari malapetaka. Dipermudah urusannya, dan sebagainya. Ehm, nikmatnya… Inilah yang saya sebut sebagai kenikmatan tingkat tinggi.
Orang yang mudah memaafkan adalah orang yang dirinya senantiasa bebas. Tidak dipenjara oleh kesakitan hatinya. Sebaliknya orang yang sulit memaafkan adalah orang yang justru terus disiksa oleh rasa sakit hatinya itu. Jadi, orang yang melakukan kesalahan telah menyakiti diri kita sekali saja. Tapi, karena kita tak memaafkan, maka kita menyakiti diri kita sendiri berkali-kali. Ah,… tragis sekali.
Ada dua orang mantan tahanan politik. Satu orang telah memaafkan orang yang memenjaranya. Yang seorang belum. Mantan tapol yang telah memaafkan berkata: “Wah, kalau begitu kamu masih dipenjara”
Prinsip Memaafkan
Memaafkan itu kebaikan terbesarnya bagi yang memaafkan, karena akan bisa melepas beban kepedihan dirinya. Kesadaran akan hal ini benar-benar menjadi dasar agar kita bisa dengan mudah memaafkan.
Saya memilih 5 tips yang bisa dilakukan agar memaafkan menjadi mudah :
1. Senyum dan menarik nafas panjang.
2. Sadari kita juga tak sempurna
3. Pahami kondisi orang lain
4. Putuskan untuk memaafkan dengan mengatakan : “Saya maafkan anda”
5. Fokuskan pikiran pada hal lain
Bila kita sudah memaafkan ada dua ciri utama, yaitu:
1. Perasaan lega / plong / ringan, karena memang bebannya telah lepas.
2. Tak ada hambatan psikologis untuk berinteraksi kembali.
Jadi, bila 2 ciri ini belum ada, itu tanda kita belum memaafkan.
Nah temans, mari saling memaafkan yuks…
Memaafkan adalah salah satu kualitas takwa. Dan Tuhan menilai tinggi rendahnya derajat manusia dengan ukuran takwa ini. Maka siapapun yang ingin dinilai tinggi oleh Tuhan, jadilah pribadi pemaaf. Kenapa ini penting? Karena siapapun yang dinilai tinggi oleh Tuhan akan mendapatkan banyak keuntungan dariNya. Dipercaya atas rizki yang banyak. Dihindarkan dari malapetaka. Dipermudah urusannya, dan sebagainya. Ehm, nikmatnya… Inilah yang saya sebut sebagai kenikmatan tingkat tinggi.
Orang yang mudah memaafkan adalah orang yang dirinya senantiasa bebas. Tidak dipenjara oleh kesakitan hatinya. Sebaliknya orang yang sulit memaafkan adalah orang yang justru terus disiksa oleh rasa sakit hatinya itu. Jadi, orang yang melakukan kesalahan telah menyakiti diri kita sekali saja. Tapi, karena kita tak memaafkan, maka kita menyakiti diri kita sendiri berkali-kali. Ah,… tragis sekali.
Ada dua orang mantan tahanan politik. Satu orang telah memaafkan orang yang memenjaranya. Yang seorang belum. Mantan tapol yang telah memaafkan berkata: “Wah, kalau begitu kamu masih dipenjara”
Prinsip Memaafkan
Memaafkan itu kebaikan terbesarnya bagi yang memaafkan, karena akan bisa melepas beban kepedihan dirinya. Kesadaran akan hal ini benar-benar menjadi dasar agar kita bisa dengan mudah memaafkan.
Saya memilih 5 tips yang bisa dilakukan agar memaafkan menjadi mudah :
1. Senyum dan menarik nafas panjang.
2. Sadari kita juga tak sempurna
3. Pahami kondisi orang lain
4. Putuskan untuk memaafkan dengan mengatakan : “Saya maafkan anda”
5. Fokuskan pikiran pada hal lain
Bila kita sudah memaafkan ada dua ciri utama, yaitu:
1. Perasaan lega / plong / ringan, karena memang bebannya telah lepas.
2. Tak ada hambatan psikologis untuk berinteraksi kembali.
Jadi, bila 2 ciri ini belum ada, itu tanda kita belum memaafkan.
Nah temans, mari saling memaafkan yuks…
Membangkitkan Kembali Raksasa yang Tertidur
Islam adalah agama yang dipeluk sekitar 90% penduduk Indonesia sebagai jalan hidup yang diturunkan Allah kepada Muhammad untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan manusia yang lain.
Di tengah kaum yang ummi, Al Quran diturunkan. Dorongan memahamkan Islam ke berbagai bangsa serta keinginan menguasai sains dan teknologi dunia menjadikan cendekiawan muslim mempelajari beragam bahasa. Islam menjadi berpengaruh kuat bagi bangsa-bangsa non-Arab untuk semakin dalam memahami dan menggali khazanah hukum Islam.
Upaya menjadikan Islam sebagai adidaya dunia telah dirintis Rasulullah dan dilanjutkan oleh para khalifah penerus Beliau. Rasulullah mengirimkan para sahabat untuk mempelajari teknologi peralatan perang Persia. Bom-bom mesiu dalam tembikar yang dilontarkan dengan ketapel dalam perang salib. Dan kota Konstantinopel berhasil dibebaskan dengan dukungan meriam super berdiameter 762 mm.
Kekuasaan Islam yang membentang dari Papua hingga Andalusia, tidak menjadikannya diktator mayoritas, cendekiawan non-muslim H.G Wells dalam bukanya The Outline of History menyatakan “Islam telah berhasil menciptakan suatu masyarakat yang bebas dari kekejaman dan penindasan sosial dari pada masyarakat-masyarakat yang pernah ada sebelumnya di dunia”. Hal ini dijelaskan Sir Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa penerapan hukum Islam menjamin kebebasan memeluk agama, kelonggaran dalam wajib militer, dan pembayaran jizyah (pungutan) yang ringan.
Sistem pendidikan Islam yang diterapkan dengan motivasi spiritual, kemudahan akses pendidikan, penggajian yang baik, juga insentif luar biasa terhadap karya-karya intelektual menjadikan Khilafah Islamiyyah sebagai negara rujukan yang melahirkan karya-karya monumental. Diantaranya Ibnu Haytsam, 600 tahun lebih awal daripada Rene Descartes dalam membangun tradisi metode ilmiah yang dimulai dari pengamatan empiris, perumusan masalah, formulasi hipotesis, eksperimen, analisis, interpretasi data dan formulasi kesimpulan dengan publikasi yang telah dinilai oleh peer-review.
Perhitungan waris menginspirasi Al Khawarizmi melahirkan dasar aljabar dalam kitab Al Jabar wal Muqobalah. Phillip K. Hitti dalam History of the Arabs, Ibnu Firnas sebagai manusia pertama yang secara ilmiah mencoba terbang atau seribu tahun sebelum Oliver dan Wilbur Wright. Dan masih banyak lagi dibidang persandian, kimia, konversi energi, dll.
Kini, dunia Islam telah kehilangan ruhnya, tercerai berai dan tertinggal dengan Negara-negara lainya. Dunia Islam membutuhkan sinergi antara cendekiawan muslim dengan berbagai komponen kaum muslim yang lain. Cendekiawan muslim harus bekerja dengan motivasi spiritual, melakukan perubahan rasional yang berjalan di atas jalan Kenabian sehingga mampu mambangkitkan kembali raksasa yang telah tertidur panjang sejak 3 Maret 1924 silam, untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Adakah seorang dari kita yang memiliki azzam untuk mengembalikan kejayaan-nya
Di tengah kaum yang ummi, Al Quran diturunkan. Dorongan memahamkan Islam ke berbagai bangsa serta keinginan menguasai sains dan teknologi dunia menjadikan cendekiawan muslim mempelajari beragam bahasa. Islam menjadi berpengaruh kuat bagi bangsa-bangsa non-Arab untuk semakin dalam memahami dan menggali khazanah hukum Islam.
Upaya menjadikan Islam sebagai adidaya dunia telah dirintis Rasulullah dan dilanjutkan oleh para khalifah penerus Beliau. Rasulullah mengirimkan para sahabat untuk mempelajari teknologi peralatan perang Persia. Bom-bom mesiu dalam tembikar yang dilontarkan dengan ketapel dalam perang salib. Dan kota Konstantinopel berhasil dibebaskan dengan dukungan meriam super berdiameter 762 mm.
Kekuasaan Islam yang membentang dari Papua hingga Andalusia, tidak menjadikannya diktator mayoritas, cendekiawan non-muslim H.G Wells dalam bukanya The Outline of History menyatakan “Islam telah berhasil menciptakan suatu masyarakat yang bebas dari kekejaman dan penindasan sosial dari pada masyarakat-masyarakat yang pernah ada sebelumnya di dunia”. Hal ini dijelaskan Sir Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa penerapan hukum Islam menjamin kebebasan memeluk agama, kelonggaran dalam wajib militer, dan pembayaran jizyah (pungutan) yang ringan.
Sistem pendidikan Islam yang diterapkan dengan motivasi spiritual, kemudahan akses pendidikan, penggajian yang baik, juga insentif luar biasa terhadap karya-karya intelektual menjadikan Khilafah Islamiyyah sebagai negara rujukan yang melahirkan karya-karya monumental. Diantaranya Ibnu Haytsam, 600 tahun lebih awal daripada Rene Descartes dalam membangun tradisi metode ilmiah yang dimulai dari pengamatan empiris, perumusan masalah, formulasi hipotesis, eksperimen, analisis, interpretasi data dan formulasi kesimpulan dengan publikasi yang telah dinilai oleh peer-review.
Perhitungan waris menginspirasi Al Khawarizmi melahirkan dasar aljabar dalam kitab Al Jabar wal Muqobalah. Phillip K. Hitti dalam History of the Arabs, Ibnu Firnas sebagai manusia pertama yang secara ilmiah mencoba terbang atau seribu tahun sebelum Oliver dan Wilbur Wright. Dan masih banyak lagi dibidang persandian, kimia, konversi energi, dll.
Kini, dunia Islam telah kehilangan ruhnya, tercerai berai dan tertinggal dengan Negara-negara lainya. Dunia Islam membutuhkan sinergi antara cendekiawan muslim dengan berbagai komponen kaum muslim yang lain. Cendekiawan muslim harus bekerja dengan motivasi spiritual, melakukan perubahan rasional yang berjalan di atas jalan Kenabian sehingga mampu mambangkitkan kembali raksasa yang telah tertidur panjang sejak 3 Maret 1924 silam, untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Adakah seorang dari kita yang memiliki azzam untuk mengembalikan kejayaan-nya
Senin, 21 Februari 2011
Sholat Mengobati Kegelisahan Hati
Awalnya dari kegelisahan yang begitu dahsyat. Hidupnya terasa kosong meskipun bergelimang harta. Hatinya selalu gelisah dan tidak menikmati apapun yang selama ini dijalani dalam hidup ini. Sore itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu seorang bapak. Bapak itu bertutur. 'Allah telah memberikan rizki begitu banyak kepada saya, apakah yang saya lakukan dengan harta yang berlimpah? sudahkah saya bersyukur? sepertinya semakin berlimpahnya rizki malah membuat saya semakin jauh dari Sang Pencipta. Entah kenapa?'
Banyak hal membuat dirinya semakin gelisah dan ketakutan. Semakin menghentak-hentak hatinya yang paling dalam. Bermula dari rasa takut dan gelisah itu, beliau mencoba untuk mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Lalu bertanya kesana-kemari. Tanpa rasa malu, dulu seringkali beliau selalu mencibir orang lain yang taat menjalankan ibadahnya sebagai orang yang 'sok suci' namun sekarang tidak segan bagi dirinya bertanya pada sesama rekan kerjanya untuk bertanya masalah-masalah kecil tentang agama. Lalu terjadi dialog panjang, rasa ingin tahunya semakin besar. Apa yang didapatkan dari penjelasan teman-temannya sekantor semakin membuatnya berpikir keras. Uraiannya yang sederhana tapi padat membuat dirinya semakin ingin mendalami spiritualitas.
Pada suatu hari dirinya sedang membersihkan rumahnya, disaat sedang membersihkan rumah menemukan sebuah buku yang ternyata al-Quran dan ada terjemahannya. Sepintas dibukanya buku itu dan dibacalah isinya. Surat Ar-Rahman yang artinya, 'Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' Ayat ini membuat hatinya bergetar. Rasanya ada yang menohok hatinya, terasa perih tak tertahankan. 'Ya Allah, Ya Rabb..' ucapnya lirih. Air matanya menetes mengalir. Ayat ini begitu luar biasa maknanya. Tubuhnya bergetar. Seolah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang menegur dirinya dengan membaca ayat itu.
Pengalaman itu membuat hatinya bertekad untuk belajar sholat dengan baik dan benar. Secara diam-diam beliau membeli buku tuntunan sholat. Dipelajari buku itu dan sekaligus dipraktekkan dalam kamar di setiap malam. hal itu dijalaninya hampir satu tahun. 'Saya mulai bisa merasakan sholat membawa pengaruh dalam menentramkan hati saya..Mas Agus..' tuturnya. Kegelisahan terasa diobati dengan menjalankan ibadah sholat yang dilaksanakannya secara diam-diam. Akhirnya tanpa disengaja anak-anak dan istrinya memperhatikan perubahan perilaku beliau sebagai kepala rumah tangga. Lebih sabar dan lebih sayang kepada keluarga. 'Anak-anak dan istri saya sampai menangis mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menjalankan sholat secara diam-diam selama setahun lalu. Mereka tidak menyangka saya akan berubah,' lanjut beliau. Sejak beliau menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan tertib hanya telah menjadi tentram dan keluarganya menjadi bahagia. 'Saya menyakini dengan sepenuh hati, sesungguhnya sholat adalah obat hati yang sedang gelisah.' Ucap beliau dipenghujung pertemuannya dengan kami. Subhanallah..
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'ad: 28).
Banyak hal membuat dirinya semakin gelisah dan ketakutan. Semakin menghentak-hentak hatinya yang paling dalam. Bermula dari rasa takut dan gelisah itu, beliau mencoba untuk mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Lalu bertanya kesana-kemari. Tanpa rasa malu, dulu seringkali beliau selalu mencibir orang lain yang taat menjalankan ibadahnya sebagai orang yang 'sok suci' namun sekarang tidak segan bagi dirinya bertanya pada sesama rekan kerjanya untuk bertanya masalah-masalah kecil tentang agama. Lalu terjadi dialog panjang, rasa ingin tahunya semakin besar. Apa yang didapatkan dari penjelasan teman-temannya sekantor semakin membuatnya berpikir keras. Uraiannya yang sederhana tapi padat membuat dirinya semakin ingin mendalami spiritualitas.
Pada suatu hari dirinya sedang membersihkan rumahnya, disaat sedang membersihkan rumah menemukan sebuah buku yang ternyata al-Quran dan ada terjemahannya. Sepintas dibukanya buku itu dan dibacalah isinya. Surat Ar-Rahman yang artinya, 'Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' Ayat ini membuat hatinya bergetar. Rasanya ada yang menohok hatinya, terasa perih tak tertahankan. 'Ya Allah, Ya Rabb..' ucapnya lirih. Air matanya menetes mengalir. Ayat ini begitu luar biasa maknanya. Tubuhnya bergetar. Seolah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang menegur dirinya dengan membaca ayat itu.
Pengalaman itu membuat hatinya bertekad untuk belajar sholat dengan baik dan benar. Secara diam-diam beliau membeli buku tuntunan sholat. Dipelajari buku itu dan sekaligus dipraktekkan dalam kamar di setiap malam. hal itu dijalaninya hampir satu tahun. 'Saya mulai bisa merasakan sholat membawa pengaruh dalam menentramkan hati saya..Mas Agus..' tuturnya. Kegelisahan terasa diobati dengan menjalankan ibadah sholat yang dilaksanakannya secara diam-diam. Akhirnya tanpa disengaja anak-anak dan istrinya memperhatikan perubahan perilaku beliau sebagai kepala rumah tangga. Lebih sabar dan lebih sayang kepada keluarga. 'Anak-anak dan istri saya sampai menangis mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menjalankan sholat secara diam-diam selama setahun lalu. Mereka tidak menyangka saya akan berubah,' lanjut beliau. Sejak beliau menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan tertib hanya telah menjadi tentram dan keluarganya menjadi bahagia. 'Saya menyakini dengan sepenuh hati, sesungguhnya sholat adalah obat hati yang sedang gelisah.' Ucap beliau dipenghujung pertemuannya dengan kami. Subhanallah..
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'ad: 28).
Keberkahan Ditengah Badai Kehidupan
Air matanya mengalir begitu saja, tangis dan isak tak kuasa dibendungnya. Keputusannya adalah pilihan hidup. Hatinya terasa perih tapi semua membuat dirinya menjadi tegar. Kehidupan bagai drama yang penuh konflik dan intrik. Ada perang batin dihatinya. Keteguhannya untuk menjadi orang yang baik diterpa gelombang samudra kehidupan tiada habisnya, kemudian harus ada pula cerita perkawinannya yang kandas ditengah batu karang. Semua itu tetap dijalaninya dengan tegar. 'Keteguhan saya dalam menerima semua cobaan ini semata-mata karena dalam hati saya telah ngendap iman.' begitu tuturnya pada saya malam itu di Rumah Amalia. Anak-anak bersenandung shalawat pada Nabi, shalawat itu menyejukkan hati siapa saja yang mendengarkan. Sebuah oase dalam gurun yang tandus dan gersang ditengah kehidupan metropolitan yang tiada habis mengejar nafsu duniawi. Berlimpah dalam materi namun kering kerontang dalam spiritualitas. Ditengah ramai dan maraknya namun merasa sepi dan sunyi dalam kesendirian. Shalawat itu bagai hujan rintik-rintik setelah musim kemarau yang berkepanjangan. Suaranya lembut, merdu, menyentuh hati yang paling dalam.
Shalawat membuat hati sang ibu yang malam itu datang ke Rumah Amalia menangis. Dari kecil, dirinya sudah berlagak seperti artis, menyanyi, bermain sinetron bahkan ketika beranjak dewasa sampai harus pergi ke Jakarta untuk menjadi audisi poto model. Awalnya orang tuanya melarang namun tekad keras mampu melunakkan hati orang tuanya. Bukan kesuksesan yang didapat, dirinya malah terjerumus didunia malam. Kesadarannya menyentak. Tatkala pada suatu malam dirinya mendengarkan suara adzan. Suara itu mengingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Banyak diantara teman-temannya melecehkan dan mengatakan 'sok alim,' 'sok suci,' bahkan sampai diancam dan teror dari orang-orang yang tida suka atas keputusannya.
Ditengah kegalauan hidupnya menentramkan hatinya, Sang Khaliq mempertemukan dirinya dengan seorang laki-laki yang membimbingnya. kehidupan rumah tangganya terasa begitu indah dan damai. orang tuanya sampai menangis tersedu melihat perubahan dalam diri putrinya. Ayahnya yang bijak selalu mengingatkan bahwa hidup adalah 'senandung hati yang tidak pernah menentu.' karena mengikuti irama hati yang senantiasa berubah. Hanya berserah diri kepada Allohlah yang akan menyelamatkan dirinya. 'Ketika saya benar-benar berserah diri kepada Allah untuk berjalan yang lurus, saya mendapatkan kekuatan batin yang luar biasa Mas Agus Syafii. Badai gelombang kehidupan datang silih berganti. jika bukan karena iman, hidup saya sudah terpuruk.' tuturnya. 'Cobaan yang paling dahsyat adalah disaat saya harus menerima kenyataan perkawinan saya harus berakhir,' lanjutnya. Sementara dua anak yang kami sayangi telah terlahir didunia. kehidupan keluarga kami yang begitu indah kemudian mesti berpisah, 'bagi saya itu cobaan teramat berat.' katanya dalam isak dan tangis. Malam itu setelah sang ibu mengambil air wudlu, kami bersama-sama anak-anak Amalia berdoa untuk ketabahan hati beliau agar dikuatkan imannya agar ikhlas menerima 'garis kehidupan' yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Sampai pada suatu hari beliau bertemu jodohnya kembali, mendapatkan suami yang bisa menerima apa adanya dan bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya bersama kedua anaknya. Rasa syukur dipanjatkan kepada Allah diucapkan berkali-kali. 'Terima kasih ya mas agus sudah menguatkan hati saya..'katanya. Senandung hati telah berubah dalam kegembiraan, menebarkan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak yang disayanginya. Keberkahan terasa pada dirinya memancar pada setiap langkah membawa kebaikan dan ketenteraman bagi orang-orang disekelilingnya. Subhannallah..
Shalawat membuat hati sang ibu yang malam itu datang ke Rumah Amalia menangis. Dari kecil, dirinya sudah berlagak seperti artis, menyanyi, bermain sinetron bahkan ketika beranjak dewasa sampai harus pergi ke Jakarta untuk menjadi audisi poto model. Awalnya orang tuanya melarang namun tekad keras mampu melunakkan hati orang tuanya. Bukan kesuksesan yang didapat, dirinya malah terjerumus didunia malam. Kesadarannya menyentak. Tatkala pada suatu malam dirinya mendengarkan suara adzan. Suara itu mengingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Banyak diantara teman-temannya melecehkan dan mengatakan 'sok alim,' 'sok suci,' bahkan sampai diancam dan teror dari orang-orang yang tida suka atas keputusannya.
Ditengah kegalauan hidupnya menentramkan hatinya, Sang Khaliq mempertemukan dirinya dengan seorang laki-laki yang membimbingnya. kehidupan rumah tangganya terasa begitu indah dan damai. orang tuanya sampai menangis tersedu melihat perubahan dalam diri putrinya. Ayahnya yang bijak selalu mengingatkan bahwa hidup adalah 'senandung hati yang tidak pernah menentu.' karena mengikuti irama hati yang senantiasa berubah. Hanya berserah diri kepada Allohlah yang akan menyelamatkan dirinya. 'Ketika saya benar-benar berserah diri kepada Allah untuk berjalan yang lurus, saya mendapatkan kekuatan batin yang luar biasa Mas Agus Syafii. Badai gelombang kehidupan datang silih berganti. jika bukan karena iman, hidup saya sudah terpuruk.' tuturnya. 'Cobaan yang paling dahsyat adalah disaat saya harus menerima kenyataan perkawinan saya harus berakhir,' lanjutnya. Sementara dua anak yang kami sayangi telah terlahir didunia. kehidupan keluarga kami yang begitu indah kemudian mesti berpisah, 'bagi saya itu cobaan teramat berat.' katanya dalam isak dan tangis. Malam itu setelah sang ibu mengambil air wudlu, kami bersama-sama anak-anak Amalia berdoa untuk ketabahan hati beliau agar dikuatkan imannya agar ikhlas menerima 'garis kehidupan' yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Sampai pada suatu hari beliau bertemu jodohnya kembali, mendapatkan suami yang bisa menerima apa adanya dan bisa menjadi imam yang baik bagi dirinya bersama kedua anaknya. Rasa syukur dipanjatkan kepada Allah diucapkan berkali-kali. 'Terima kasih ya mas agus sudah menguatkan hati saya..'katanya. Senandung hati telah berubah dalam kegembiraan, menebarkan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak yang disayanginya. Keberkahan terasa pada dirinya memancar pada setiap langkah membawa kebaikan dan ketenteraman bagi orang-orang disekelilingnya. Subhannallah..
Hati Yang Tersakiti
Pernah di Rumah Amalia ada Ibu muda mengeluhkan perkawinannya yang terbilang muda sedang dihadapkan masalah. Semasa gadisnya adalah orang yang mendiam, merasa memiliki banyak kekurangan, berasal dari keluarga 'broken home.' Sampai kemudian mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya menjadi periang sampai kemudian menikah. Di awal perkawinan terasa indah, dengan dihiasi canda & tawa bersama-sama. Namun semua itu perlahan menjadi berubah, ditengah kesibukan masing2 bekerja, jarang ada percakapan, apalagi sampai bercanda. Bukan karena cinta telah hilang tetapi lebih karena berhati-hati agar tidak melukai perasaan suami.
Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar. Sampai istrinya takut salah ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang yang temperamental karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam pertengkaran. Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat seperti itulah istri merasa bersalah & berdosa karena telah membuat marah suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai pendamping hidup bagi suaminya. Ditengah kebingungan, terlontar pertanyaan, apa yang harus saya lakukan Mas Agus? Kenapa terasa berat saya menjalani hidup ini?'
Saya kemudian menjelaskan kepadanya, umumnya didalam perkawinan muda banyak hal yang harus disesuaikan, ketidaknyamanan karena hambatan komunikasi antara suami istri seringkali terjadi karena perbedaan karakter. Perbedaan karakter dapat menjadi indah bila kita mampu mengolah, memadukan, meski tak jarang juga dapat membuat sakit hati yang tiada terobati. Perkawinan memang penuh kejutan. Inilah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya terutama bagi mereka yang tidak pernah mempersiapkan diri atau salah persepsi tentang makna perkawinan. Persiapan mental & pisik adalah hal yang mutlak sebelum seseorang masuk dalam gerbang perkawinan. kekokohan dalam agama juga menentukan seberapa sanggup menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah.
Kebanyakan orang ketika sedang menghadapi permasalahn dalam rumah tangga mudah sekali untuk mengucapkan kata 'pisah,' meninggalkan pasangannya atau bercerai. Tentu saja hal itu bukan sebuah penyelesaian. Perkawinan yang begitu indah dengan mudah sekejap runtuh. Hanya terkadang masalah2 yang sederhana. Mendorong untuk memulihkan kembali hubungan & mempersatukan kembali keluarga yang retak harus tetap diupayakan. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna karena setiap pasangan hidup kita bisa melakukan kesalahan tanpa disadarinya, tugas kitalah yang meluaskan hati, memaklumi & memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya akan kokoh bila dilandasi bahwa setiap masalah kita bersandar kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan. Itulah sebabnya penting untuk kita setiap masalah apapun sebagai wujud kasih sayang Allah.
Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri bisa mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati kita ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam keluarga kita. 'Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).
Wassalam,
M. Agus Syafii
Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar. Sampai istrinya takut salah ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang yang temperamental karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam pertengkaran. Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat seperti itulah istri merasa bersalah & berdosa karena telah membuat marah suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai pendamping hidup bagi suaminya. Ditengah kebingungan, terlontar pertanyaan, apa yang harus saya lakukan Mas Agus? Kenapa terasa berat saya menjalani hidup ini?'
Saya kemudian menjelaskan kepadanya, umumnya didalam perkawinan muda banyak hal yang harus disesuaikan, ketidaknyamanan karena hambatan komunikasi antara suami istri seringkali terjadi karena perbedaan karakter. Perbedaan karakter dapat menjadi indah bila kita mampu mengolah, memadukan, meski tak jarang juga dapat membuat sakit hati yang tiada terobati. Perkawinan memang penuh kejutan. Inilah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya terutama bagi mereka yang tidak pernah mempersiapkan diri atau salah persepsi tentang makna perkawinan. Persiapan mental & pisik adalah hal yang mutlak sebelum seseorang masuk dalam gerbang perkawinan. kekokohan dalam agama juga menentukan seberapa sanggup menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah.
Kebanyakan orang ketika sedang menghadapi permasalahn dalam rumah tangga mudah sekali untuk mengucapkan kata 'pisah,' meninggalkan pasangannya atau bercerai. Tentu saja hal itu bukan sebuah penyelesaian. Perkawinan yang begitu indah dengan mudah sekejap runtuh. Hanya terkadang masalah2 yang sederhana. Mendorong untuk memulihkan kembali hubungan & mempersatukan kembali keluarga yang retak harus tetap diupayakan. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna karena setiap pasangan hidup kita bisa melakukan kesalahan tanpa disadarinya, tugas kitalah yang meluaskan hati, memaklumi & memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya akan kokoh bila dilandasi bahwa setiap masalah kita bersandar kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan. Itulah sebabnya penting untuk kita setiap masalah apapun sebagai wujud kasih sayang Allah.
Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri bisa mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati kita ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam keluarga kita. 'Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).
Wassalam,
M. Agus Syafii
Kamis, 17 Februari 2011
Hati Yang Resah
Pernah ada seorang suami ditengah pernikahannya yang ke sepuluh tahun rumah tangganya membuat hatinya resah. Dalam penuturannya di Rumah Amalia keluarganya dibangun dengan penuh kasih sayang dengan memiliki tiga anak. Dirinya dan sang istri sama-sama bekerja, dengan menempati posisi yang lumayan dalam pekerjaan. di awal tahun pernikahan hampir tidak menemui kesulitan yang berarti, bisa dikatakan cukup harmonis dalam pernikahannya. Anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Selama ini walaupun sama-sama sibuk dengan pekerjaan dan urusan rumah tangga bisa diselesaikan bersama. Tetapi akhir-akhir ini, dirinya merasakan istrinya seperti sulit diajak komunikasi. Entah mengapa yang dirasakannya semakin jauh. Jauh dalam pengertian hati mereka seperti sudah tidak menyatu lagi. Padahal sebelumnya mereka seperti selalu tahu isi hati masing-masing.
Dirinya tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi, istrinyapun juga merasa demikian karena pernah mengatakan, 'sebenarnya ada apa ya dengan kita? Kok kita nggak bisa lagi ngobrol enak kayak dulu?' pernah dia mengajak istrinya ngomongin masalah ini tapi malah bertengkar, seolah tidak mengerti mengajak istri bagaimana memperbaiki komunikasi yang sekarang sedang renggang. Hal-hal kecilpun sekarang telah membuatnya bertengkar. 'Mas Agus Syafii, bagaimana saya harus menyikapinya? Apa yang harus saya perbuat?' Sore itu di Rumah Amalia. anak-anak terlihat sedang asyik membaca buku. Sementara yang lainnya sedang asyik melantunkan ayat suci al-Quran. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa keutuhan rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Perkawinan adalah bersatunya dua hati yang memiliki karakter yang berbeda. Belum lagi jika pasangan suami istri sama-sama berkarier sehingga waktu berkomunikasi dan berduaan menjadi sangat terbatas, yang terkadang memicu timbulnya masalah. Bisa jadi sama-sama sukses di karier, berpenghasilan tinggi, memiliki kedudukan penting di kantor namun nyaris tiada hari tanpa keributan.
Seringkali masalah sepele memicu pertengkaran. Setiap pertengkaran tentunya ada hikmah yang bisa diambil. pertengkaran dapat menimbulkan keakraban karena bisa lebih mengenal pasangan. Segera setelah pertengkaran anda harus membukakan pintu supaya anda dapat berjalan melaluinya untuk mengetahui apa yang dirasakan & dibutuhkan pasangan. Daripada diam, sampaikan dengan penuh kasih sayang, 'Senang juga bertengkar karena akan membuat kita berdua mengetahui lebih banyak satu sama lain dan lebih mengasihi satu dengan yang lain.' Sabar dan sholat sebagai sebuah solusi untuk menghadapi pertengkaran di dalam rumah tangga. Pertengkaran justru malah meningkatkan kualitas di dalam rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas pribadi untuk bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Setiap masalah didalam kehidupan adalah bentuk ujian dan cobaan yang datangnnya dari Allah, selain dengan berusaha sekaligus lebih mendekatkan diri kepada Allah membuat kehidupan keluarga menjadi terasa indah. 'Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar & sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).
Wassalam,
Dirinya tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi, istrinyapun juga merasa demikian karena pernah mengatakan, 'sebenarnya ada apa ya dengan kita? Kok kita nggak bisa lagi ngobrol enak kayak dulu?' pernah dia mengajak istrinya ngomongin masalah ini tapi malah bertengkar, seolah tidak mengerti mengajak istri bagaimana memperbaiki komunikasi yang sekarang sedang renggang. Hal-hal kecilpun sekarang telah membuatnya bertengkar. 'Mas Agus Syafii, bagaimana saya harus menyikapinya? Apa yang harus saya perbuat?' Sore itu di Rumah Amalia. anak-anak terlihat sedang asyik membaca buku. Sementara yang lainnya sedang asyik melantunkan ayat suci al-Quran. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa keutuhan rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Perkawinan adalah bersatunya dua hati yang memiliki karakter yang berbeda. Belum lagi jika pasangan suami istri sama-sama berkarier sehingga waktu berkomunikasi dan berduaan menjadi sangat terbatas, yang terkadang memicu timbulnya masalah. Bisa jadi sama-sama sukses di karier, berpenghasilan tinggi, memiliki kedudukan penting di kantor namun nyaris tiada hari tanpa keributan.
Seringkali masalah sepele memicu pertengkaran. Setiap pertengkaran tentunya ada hikmah yang bisa diambil. pertengkaran dapat menimbulkan keakraban karena bisa lebih mengenal pasangan. Segera setelah pertengkaran anda harus membukakan pintu supaya anda dapat berjalan melaluinya untuk mengetahui apa yang dirasakan & dibutuhkan pasangan. Daripada diam, sampaikan dengan penuh kasih sayang, 'Senang juga bertengkar karena akan membuat kita berdua mengetahui lebih banyak satu sama lain dan lebih mengasihi satu dengan yang lain.' Sabar dan sholat sebagai sebuah solusi untuk menghadapi pertengkaran di dalam rumah tangga. Pertengkaran justru malah meningkatkan kualitas di dalam rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas pribadi untuk bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Setiap masalah didalam kehidupan adalah bentuk ujian dan cobaan yang datangnnya dari Allah, selain dengan berusaha sekaligus lebih mendekatkan diri kepada Allah membuat kehidupan keluarga menjadi terasa indah. 'Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar & sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).
Wassalam,
Langganan:
Postingan (Atom)
